AswajaNews – Pernahkah Anda membayangkan sebuah ruang kelas di mana anak-anak bebas bergerak, memilih aktivitasnya sendiri, namun suasana tetap kondusif dan tertib?
Konsep ini dikenal sebagai “Kebebasan dalam Batas” (Freedom within Limits), sebuah pendekatan pedagogis yang kini mulai banyak diadopsi untuk membangun disiplin diri anak sejak dini.
Berbeda dengan pola asuh otoriter yang memaksa atau pola asuh permisif yang membebaskan tanpa arah, metode ini menitikberatkan pada keseimbangan antara hak anak dan tanggung jawab sosial.
Kebebasan Memilih, Bukan Kebebasan Tanpa Aturan
Di dalam kelas yang menerapkan prinsip ini, anak-anak diberikan otonomi penuh untuk memilih pekerjaan atau alat peraga yang ingin mereka eksplorasi. Mereka bebas bergerak dari satu sudut ke sudut lain tanpa harus terus-menerus meminta izin guru.
Namun, kebebasan ini tidak bersifat mutlak. Ada aturan main yang harus dipatuhi, di antaranya:
- Menghargai Proses: Anak hanya boleh mengambil alat yang sedang tidak digunakan oleh teman lain.
- Tanggung Jawab Pasca-Aktivitas: Setelah selesai, alat harus dikembalikan ke tempat semula dalam keadaan rapi.
- Menghormati Lingkungan: Tidak boleh mengganggu konsentrasi teman yang sedang bekerja.
Mengapa Ini Penting untuk Disiplin Diri?
Menurut para pakar pendidikan, disiplin yang lahir dari kesadaran jauh lebih kuat daripada disiplin yang lahir dari rasa takut. Saat seorang anak merapikan alat setelah digunakan karena ia tahu itu adalah bagian dari siklus kerja, ia sedang membangun kontrol impuls dan kemandirian.
Disiplin diri adalah kemampuan untuk melakukan hal yang benar tanpa perlu diawasi. Dengan memberikan batas yang jelas di dalam kebebasan, kita membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan tanggung jawab.***




