Bahas Montessori Edisi 4: Anak Adalah Pendidik Bagi Dirinya Sendiri

AswajaNews – Banyak orang tua dan pendidik tumbuh dengan keyakinan bahwa anak adalah “gelas kosong” yang harus diisi oleh guru, atau “kertas putih” yang harus ditulisi. Namun, Maria Montessori—wanita pertama di Italia yang menjadi dokter dan pelopor pendidikan—membalikkan logika tersebut.

Bagi Montessori, anak bukanlah objek pasif. Sebaliknya, setiap anak lahir dengan “pikiran yang menyerap” (The Absorbent Mind) dan dorongan batiniah untuk mengembangkan diri.

Dorongan Alamiah: Belajar Tanpa Perintah

Montessori mengamati bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tak terbendung. Mereka menyentuh, merasakan, dan mencoba segala hal bukan karena dijanjikan hadiah (imbalan eksternal), melainkan karena ada kebutuhan perkembangan di dalam diri mereka.

Eksplorasi Mandiri: Anak belajar berjalan bukan karena dipuji, tapi karena dorongan biologis untuk mandiri.

Fokus yang Mendalam: Pernahkah Anda melihat balita begitu khusyuk menuangkan air atau menyusun balok hingga tidak mendengar panggilan Anda? Itulah saat di mana anak sedang “mendidik dirinya sendiri.”

Kritik terhadap Imbalan Eksternal (Hadiah & Hukuman)

Dalam metode konvensional, kita sering menggunakan stiker bintang, nilai bagus, atau pujian berlebih untuk membuat anak belajar. Montessori berpendapat bahwa metode ini justru merusak rasa percaya diri dan kemandirian anak.

Ketergantungan: Jika anak belajar hanya demi hadiah, mereka akan berhenti belajar saat hadiah itu tidak ada.

Motivasi Intrinsik: Montessori menekankan bahwa kepuasan sejati datang dari penyelesaian tugas itu sendiri. Keberhasilan mengancingkan baju sendiri memberikan rasa bangga yang jauh lebih besar daripada sekadar kata “pintar” dari orang dewasa.

Peran Lingkungan yang Disiapkan (Prepared Environment)

Jika anak dapat mendidik diri sendiri, apa tugas orang dewasa? Tugas kita bukan “mengajar” dalam arti mendikte, melainkan menyiapkan lingkungan.

Guru Sebagai “Pemandu,” Bukan “Instruktur”

Dalam kelas Montessori, guru sering disebut sebagai Direktris atau Pemandu. Mereka mengamati dari jauh, mengintervensi hanya jika diperlukan, dan membiarkan anak menemukan ritme belajarnya sendiri. Ini menghargai martabat anak sebagai manusia yang berdaulat atas otaknya sendiri.

“Tanda keberhasilan terbesar bagi seorang guru adalah saat dia bisa berkata: ‘Anak-anak sekarang bekerja seolah-olah saya tidak ada’.” — Maria Montessori

Kesimpulan

Mendidik diri sendiri bukan berarti anak dibiarkan liar tanpa arah. Ini adalah tentang memberikan kepercayaan bahwa anak memiliki kompas internal untuk belajar. Dengan menyingkirkan hambatan dan memberikan sarana yang tepat, kita membiarkan api rasa ingin tahu mereka tetap menyala seumur hidup, bukan karena takut hukuman atau haus pujian, tapi karena cinta akan pengetahuan itu sendiri.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D