Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag
*********
Dzulqa’dah sering kali hadir dalam senyap, terjepit di antara euforia kemenangan Idul Fitri di bulan Syawal dan kemeriahan Idul Adha di bulan Dzulhijjah. Padahal, di balik ketenangannya, Dzulqa’dah menyimpan kemuliaan yang mendalam. Allah SWT telah memilih waktu-waktu tertentu untuk ditinggikan derajatnya, dan Dzulqa’dah adalah salah satu permata waktu tersebut.
Berikut adalah empat alasan mendalam mengapa Dzulqa’dah patut kita muliakan dengan ibadah dan refleksi diri:
1. Gerbang Pembuka Bulan-Bulan Haram (Al-Asyhur Al-Hurum).
Dzulqa’dah merupakan pembuka dari empat bulan yang disucikan. Dahulu, masyarakat Arab meletakkan senjata dan berhenti berperang (qu’uud ‘anil qitaal) demi menghormati kesucian bulan ini.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah: 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
”Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan.”
2. Bagian Integral dari Waktu Ibadah Haji.
Bulan ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan bagian dari masa haji yang sah. Secara syariat, Dzulqa’dah adalah waktu di mana seorang Muslim sudah diperbolehkan memulai niat ihram haji.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 197:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ
”Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan).”
3. Bulan Umrah Pilihan Rasulullah SAW.
Ada sebuah jejak sejarah yang manis di bulan ini. Rasulullah SAW memilih Dzulqa’dah sebagai waktu istimewa untuk melaksanakan umrah beliau sebagai bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik RA:
اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَ عُمَرٍ، كُلَّهُنَّ فِي ذِي القَعْدَةِ، إِلَّا الَّتِي كَانَتْ مَعَ حَجَّتِهِ، عُمْرَةً مِنَ الحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ العَامِ مُقْبِلِ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مِنَ الجِعْرَانَةِ، حَيْثُ قَسَمَ غَنَائِمَ حُنَيْنٍ فِي ذِي القَعْدَةِ، وَعُمْرَةً مَعَ حَجَّتِهِ (رواه البخاري)
”Rasulullah SAW berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau: Umrah Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah dari Ji’ranah, dan umrah bersama haji beliau.” (HR. Al-Bukhari).
4. Masa “Khalwat” Nabi Musa AS di Hadapan Tuhannya.
Dalam lembaran sejarah para Nabi, Dzulqa’dah dipercaya sebagai masa di mana Nabi Musa AS memenuhi janji tiga puluh malam bersama Allah sebelum akhirnya digenapkan untuk menerima Kitab Taurat.
Allah SWT mengisahkan dalam QS. Al-A’raf: 142:
وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
”Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (Dzulqa’dah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah)…”
Penutup: Mengukir Makna dalam Diam.
Sahabat yang dimuliakan Allah, kemuliaan sebuah waktu sangat bergantung pada bagaimana kita menghidupkannya. Mari jadikan Dzulqa’dah sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menjauhi segala bentuk kezaliman.
Semoga Allah SWT memberkati setiap detik yang kita lalui di bulan mulia ini dan menjadikannya jembatan menuju ketakwaan yang lebih tinggi.
Amin Ya Rabbal Alamin.



