AswajaNews – Jika Anda berkunjung ke Kelurahan Ngantru, tepatnya di kompleks Setono Gedong, Anda akan menemukan sebuah makam yang tak pernah sepi peziarah.
Itulah Makam Ki Ageng Menak Sopal, sosok legendaris yang bukan sekadar penyebar agama Islam, melainkan “Arsitek Kesejahteraan” bagi masyarakat Trenggalek.
Mengapa sosoknya begitu dikeramatkan hingga kini? Inilah kisah inspiratif di balik pembangunan Dam Bagong yang melegenda.
Dahulu, wilayah Trenggalek sering dilanda kekeringan yang menyengsarakan petani. Ki Ageng Menak Sopal muncul sebagai tokoh pahlawan lokal dengan visi besar.
Beliau menginisiasi pembangunan Dam Bagong, sebuah sistem irigasi yang hingga detik ini masih mengairi ribuan hektar sawah di Trenggalek.
Tanpa teknologi modern, beliau berhasil menggerakkan ekonomi pertanian, mengubah lahan tandus menjadi lumbung pangan yang produktif.
Sebagai tokoh penyebar Islam, Menak Sopal memiliki metode yang unik. Beliau tidak hanya berdakwah melalui lisan, tetapi melalui aksi nyata (dakwah bil hal).
Dengan membantu memperbaiki taraf hidup petani melalui irigasi, masyarakat dengan sukarela memeluk Islam karena melihat ketulusan dan manfaat nyata dari ajaran beliau.
Kesaktian dan jasa beliau diabadikan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong. Setiap tahun, masyarakat melakukan penyembelihan kerbau sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas warisan sistem irigasi yang ditinggalkan. Ini adalah bukti bahwa pengaruh Ki Ageng Menak Sopal menembus batas zaman.***





