Aswajanews – Di kawasan pesantren tua Tegalsari, Jetis, Ponorogo, makam Kyai Ageng Muhammad Besari menjadi salah satu titik spiritual yang ramai diziarahi umat Islam, terutama pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam-malam yang diyakini berpotensi sebagai malam Lailatul Qadar. Pada malam tersebut, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang ke kompleks makam di Desa Tegalsari untuk berdoa, bertawasul, serta melaksanakan rangkaian ibadah qiyamul lail.
Tegalsari sebagai Ruang Sakral Tradisi Pesantren
Kompleks makam dan masjid di Tegalsari memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat dalam sejarah Islam di Ponorogo. Kyai Ageng Muhammad Besari dikenal sebagai ulama besar abad ke-18 yang mendirikan Pesantren Tegalsari, salah satu pusat pendidikan Islam klasik di Jawa. Pesantren ini pada masa lampau menjadi tempat belajar banyak tokoh penting, termasuk pujangga keraton Ranggawarsita.
Karena posisi historis tersebut, makam Kyai Ageng Besari tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang diyakini menyimpan keberkahan (barakah). Tradisi ziarah ke makam ulama besar merupakan bagian dari praktik religius masyarakat pesantren yang bertujuan mengenang jasa ulama sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan para pendahulu.
Malam Lailatul Qadar dan Intensifikasi Ziarah
Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, intensitas kunjungan peziarah meningkat drastis. Ribuan orang memadati area makam serta halaman Masjid Jami’ Tegalsari. Para peziarah biasanya memulai aktivitas dengan membaca tahlil, istighotsah, dan doa di sekitar makam, kemudian melanjutkan tawasul kepada para ulama yang dimakamkan di kompleks tersebut.
Tradisi ini tidak berhenti pada ritual ziarah. Setelah doa bersama, para jamaah melanjutkan ibadah malam berupa shalat qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan dzikir hingga menjelang sahur. Suasana religius yang tercipta sangat kuat: halaman masjid dipenuhi jamaah yang khusyuk beribadah, sementara area makam tetap ramai oleh peziarah yang datang silih berganti sepanjang mmalam
Makna Spiritual bagi Para Peziarah
Bagi para peziarah, kehadiran di Tegalsari pada malam Lailatul Qadar memiliki makna spiritual yang mendalam. Ada beberapa motif utama yang melatarbelakanginya: (1) Mencari keberkahan ulama (tabarruk) melalui ziarah kepada tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam.Menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah yang lebih intens.; (2) Mengikuti tradisi keagamaan pesantren yang menekankan hubungan spiritual dengan para ulama pendahulu.
Tradisi ini mencerminkan pola religiositas khas masyarakat Nahdliyin di Jawa, di mana praktik ibadah personal berpadu dengan penghormatan terhadap ulama dan tradisi pesantren.
Dimensi Sosial dan Kultural
Fenomena ribuan jamaah yang memadati Tegalsari juga menunjukkan bahwa makam Kyai Ageng Besari telah menjadi pusat spiritual sekaligus ruang sosial-keagamaan. Selain sebagai tempat ibadah, kawasan ini menjadi arena pertemuan komunitas muslim dari berbagai daerah yang datang dengan tujuan yang sama: menghidupkan malam penuh kemuliaan.
Dengan demikian, kesakralan makam Kyai Ageng Besari pada malam Lailatul Qadar tidak hanya dibangun oleh keyakinan religius semata, tetapi juga oleh memori sejarah pesantren, tradisi ziarah ulama, serta praktik kolektif masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Fenomena ribuan peziarah yang berdoa, bertawasul, dan menunaikan qiyamul lail di Masjid Jami’ Tegalsari memperlihatkan bagaimana ruang sejarah dapat terus hidup sebagai pusat spiritual umat hingga hari. (***)





