AswajaNews – Di balik riuhnya sejarah berdirinya Kabupaten Ponorogo, terdapat satu titik sunyi di Kecamatan Jetis yang menyimpan memori perlawanan besar.
Petilasan Suru Kubeng, sebuah situs yang diyakini sebagai jejak peninggalan Ki Ageng Kutu atau Demang Surya Alam, menjadi saksi bisu persiapan militer sebelum pecahnya konflik politik legendaris dengan Raden Katong.
Bagi masyarakat setempat dan pemerhati sejarah, Suru Kubeng bukan sekadar gundukan tanah atau petilasan biasa.
Tempat ini dipercaya sebagai lokasi penggemblengan pasukan khusus oleh Ki Ageng Kutu.
Di sinilah para prajurit dan pengikut setia Demang Surya Alam melatih fisik serta kanuragan.
Lokasi ini dipilih karena letaknya yang strategis di wilayah Jetis, menjadikannya pusat komando sebelum terjadi gesekan besar yang kelak mengubah peta kekuasaan di Bumi Reog.
Situs Suru Kubeng tidak bisa dilepaskan dari narasi transisi kekuasaan di Majapahit akhir menuju era Islam.
Ki Ageng Kutu: Sosok penguasa lokal (Wengker) yang memiliki pengaruh kuat dan memegang teguh tradisi lama.
Raden Katong: Utusan dari Kerajaan Demak yang membawa misi penyebaran Islam dan konsolidasi kekuasaan pusat.
Konflik antara keduanya bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan benturan ideologi dan pengaruh politik. Petilasan Suru Kubeng menjadi bukti bahwa Ki Ageng Kutu melakukan persiapan matang untuk mempertahankan kedaulatannya.***





