AswajaNews – Mengulik sejarah Kabupaten Ponorogo tidak akan lengkap tanpa menyebut nama Raden Bathoro Katong. Sebagai pusat sejarah pertama di Bumi Reog, kompleks Makam dan Petilasan Bathoro Katong di Kecamatan Jenangan kini bukan sekadar tempat ziarah, melainkan destinasi wisata sejarah yang menawarkan arsitektur transisi yang memukau dan nilai filosofis yang mendalam.
Bagi Anda yang merencanakan perjalanan wisata religi di Jawa Timur, berikut adalah alasan mengapa situs ini menjadi jangkar sejarah penting yang wajib dikunjungi.
Raden Bathoro Katong merupakan putra dari Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V. Beliau diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Wengker—nama kuno Ponorogo—yang kala itu masih kental dengan pengaruh kepercayaan lama.
Keberhasilan Bathoro Katong dalam melakukan pendekatan budaya menjadikannya diterima oleh masyarakat luas. Ia kemudian mendirikan Kadipaten Ponorogo dan menjadi Adipati pertama. Inilah alasan mengapa kompleks makamnya di Kelurahan Setono dianggap sebagai titik nol sejarah pemerintahan di Ponorogo.
Keunikan Arsitektur: Transisi Majapahit ke Islam
Satu hal yang paling menonjol bagi para pecinta sejarah adalah arsitektur gapura dan struktur di kompleks ini. Pengunjung akan disambut oleh deretan gapura yang menunjukkan gaya transisi Majapahit-Islam.
Ciri khas batu bata merah besar tanpa semen (teknik gosok) khas Majapahit berpadu dengan ornamen dan fungsi bangunan Islami. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana proses akulturasi budaya berlangsung damai di tanah Jawa pada abad ke-15.
Misteri dan Kesucian Sumur Jeding
Selain makam sang Adipati, terdapat satu titik yang selalu menjadi daya tarik utama: Sumur Jeding.
Fungsi Sejarah: Dipercaya sebagai tempat bersuci (wudu) dan mandi sang Adipati sebelum menjalankan ibadah atau meditasi.
Kepercayaan Lokal: Hingga kini, banyak peziarah yang membasuh wajah atau meminum air dari Sumur Jeding karena diyakini membawa keberkahan dan ketenangan batin.
Pusat Keramaian di Malam Satu Suro
Situs Bathoro Katong mencapai puncak kunjungan saat perayaan Grebeg Suro. Sebagai bagian dari rangkaian acara nasional, prosesi Ziarah Makam Leluhur dilakukan oleh jajaran pemerintah Kabupaten Ponorogo sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau meletakkan fondasi kepemimpinan di Ponorogo.***





