AswajaNews – Kabupaten Ponorogo berdiri di atas landasan sejarah yang mempertemukan trah kerajaan besar dengan kekuatan spiritual para ulama. Dikenal sebagai tanah kelahiran kesenian Reog, Ponorogo memiliki garis waktu yang membentang dari akhir masa Majapahit hingga pembentukan pemerintahan modern yang mandiri.
Nama Ponorogo memiliki filosofi mendalam yang diyakini berasal dari dua kata Sansekerta/Jawa Kuno, yaitu “Pramana” yang berarti daya kekuatan, rahasia, atau kearifan, dan “Raga” yang berarti badan atau jasmani.
Penggabungan ini merujuk pada konsep “Memayu Hayuning Bawono”, di mana kekuatan batin dan raga harus selaras. Secara perlahan, pelafalan Pramana-Raga berubah menjadi Ponorogo, melambangkan masyarakat yang memiliki kekuatan fisik sekaligus ketajaman spiritual.
Tokoh Kunci: Raden Katong dan Hari Jadi 11 Agustus 1496
Sejarah resmi Ponorogo dimulai pada akhir abad ke-15. Tokoh sentralnya adalah Raden Katong (Batara Katong), putra dari Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) dan saudara dari Raden Patah (Sultan Demak).
Raden Katong diutus untuk menyebarkan agama Islam sekaligus menata pemerintahan di wilayah yang saat itu masih didominasi oleh pengaruh penguasa lokal sakti. Berdasarkan catatan sejarah, pada tanggal 11 Agustus 1496, Raden Katong resmi dinobatkan sebagai Adipati pertama di daerah yang disebut Ponorogo. Tanggal inilah yang hingga kini diperingati secara sakral sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.
Dinamika Pusat Pemerintahan: Kota Tengah ke Kota Baru
Dalam perjalanannya, pusat pemerintahan Ponorogo sempat mengalami perpindahan:
- Ponorogo Lama (Kota Tengah): Terletak di wilayah yang sekarang menjadi kawasan Setono. Di sini terdapat makam Batara Katong yang hingga kini menjadi pusat ziarah sejarah.
- Ponorogo Baru: Pada masa kepemimpinan Bupati Raden Mas Adipati Arya Tjokronegoro (abad ke-19), pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi saat ini di sekitar Alun-alun Ponorogo untuk mendukung tata kota yang lebih modern.
Warisan Reog dan Semangat Perlawanan
Satu elemen sejarah yang tidak bisa dipisahkan adalah Reog Ponorogo. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol perlawanan dan sindiran politik terhadap otoritas kerajaan di masa lalu (seperti legenda Ki Ageng Kutu).
Eksistensi kesenian ini membuktikan bahwa Ponorogo sejak dulu telah memiliki tatanan sosial yang berani, kreatif, dan menjunjung tinggi identitas lokal. Hal ini pula yang membawa Reog kini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.***





