AswajaNews – Berdiri megah di tepi Sungai Brantas, Kota Kediri memegang predikat sebagai salah satu kota tertua di Indonesia. Jauh sebelum dikenal sebagai pusat industri rokok terbesar di tanah air, Kediri adalah pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan besar yang menentukan jalannya sejarah Nusantara.
Sejarah resmi Kota Kediri berakar pada Prasasti Kwak yang bertarikh 27 Juli 879 Masehi. Berdasarkan bukti epigrafi ini, tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kota Kediri. Hal ini menjadikan Kediri sebagai wilayah yang telah memiliki sistem kemasyarakatan yang mapan sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno (era Rakai Kayuwangi).
Puncak kemasyhuran wilayah ini terjadi pada abad ke-12 di bawah kekuasaan Kerajaan Kadiri (Panjalu). Di masa Raja Jayabaya, Kediri tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga menjadi pusat sastra. Karya-karya besar seperti Ramayana dan Bharatayuddha lahir di era ini.
Nama “Kediri” sendiri diyakini berasal dari kata “Khadiri” dalam bahasa Sanskerta yang berarti pohon mengkudu, yang melambangkan kemanfaatan dan ketangguhan.
Sungai Brantas adalah urat nadi sejarah Kediri. Sejak era kuno hingga masa kolonial, sungai ini berfungsi sebagai jalur transportasi perdagangan utama yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan pelabuhan internasional di pesisir utara. Keberadaan Jembatan Lama (Brug Over den Brantas te Kediri) yang dibangun pada 1869 menjadi saksi bisu transformasi Kediri menjadi pusat distribusi ekonomi di Jawa Timur.
Memasuki abad ke-20, wajah Kediri mulai berubah dari agraris-tradisional menjadi kota industri.
Era Kolonial: Kediri menjadi pusat administrasi Residentie Kediri yang membawahi wilayah sekitarnya. Arsitektur kolonial masih terlihat jelas di kawasan Balai Kota dan bangunan-bangunan tua di sepanjang Jalan Doho.
Pasca-Kemerdekaan: Berdirinya industri kretek pada tahun 1958 mengubah lanskap ekonomi kota secara masif. Kediri bertransformasi menjadi kota dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang sangat tinggi di Indonesia.
Hari ini, Kediri bersiap melompat lebih jauh dengan kehadiran Bandara Internasional Dhoho. Langkah ini seolah mengulang sejarah masa lalu, di mana Kediri kembali menjadi “gerbang” penting yang menghubungkan wilayah Jawa Timur bagian selatan dengan dunia luar.***





