AswajaNews – Kabupaten Gresik, yang saat ini menjadi salah satu kabupaten penting di Provinsi Jawa Timur, memiliki sejarah panjang dan beragam yang telah memberi dampak besar terhadap perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya Nusantara.
Sebagai salah satu pusat perdagangan awal dan pintu masuk agama Islam di Pulau Jawa, sejarah Gresik mencerminkan peran strategisnya sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Sejarah Gresik dimulai sejak abad ke-11, ketika wilayah ini telah dikenal sebagai pelabuhan perdagangan penting di pesisir utara Pulau Jawa.
Pelabuhan Gresik menjadi tempat singgah kapal-kapal dagang dari China, Arab, Gujarat, dan negara Asia lainnya, menjadikannya pusat perdagangan yang ramai antara Nusantara dan dunia luar. Keberadaan pelabuhan ini menarik pedagang dari berbagai penjuru dan menjadikan Gresik sebagai salah satu kota dagang utama di Jawa Timur pada masa itu.
Pintu Masuk Islam di Tanah Jawa
Peran Gresik tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Tokoh penting seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Fatimah binti Maimun datang ke Gresik pada awal penyebaran Islam di pulau ini. Gresik kemudian menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam yang berpengaruh, menjadikannya dikenal sebagai kota wali dan dikenal pula sebagai kota santri karena keberadaan pondok-pondok pesantren dan tradisi keagamaan yang kuat.
Pada abad ke-15, Gresik diperintah oleh Sunan Giri, juga dikenal sebagai Sultan Ainul Yaqin, yang memimpin wilayah ini dan memperkuat posisi Gresik sebagai kota religius dan perdagangan. Penjelajah Portugis, Tomé Pires, dalam bukunya Suma Oriental menggambarkan Gresik sebagai “permata pelabuhan Jawa” karena perannya yang sangat penting dalam jaringan perdagangan regional saat itu.
Masa Kolonial dan Perubahan Administrasi
Selama era kolonial, wilayah Gresik mengalami perubahan administratif. Pada abad ke-20, Kabupaten Gresik pernah menjadi bagian dari Kabupaten Surabaya. Namun, setelah Indonesia merdeka, daerah ini tetap menjadi subwilayah penting hingga kemudian pemerintah pusat mengambil keputusan penting pada tahun 1974 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1974.
Peraturan ini menghapus nama Kabupaten Surabaya dan secara resmi menetapkan wilayah tersebut sebagai Kabupaten Gresik dengan tata pemerintahan yang mandiri. Sejak saat itu, kegiatan pemerintahan secara bertahap dipindahkan ke pusat pemerintahan di kota Gresik.
Gresik di Era Modern
Kini, Kabupaten Gresik dikenal tidak hanya sebagai wilayah bersejarah, tetapi juga sebagai kawasan industri dan ekonomi strategis di Jawa Timur. Keberadaan pelabuhan, industri besar seperti bahan kimia dan semen, serta perkembangan pendidikan dan budaya menjadikan Gresik sebagai daerah yang terus berkembang dengan karakter khasnya sendiri.
Sejarah panjang Kabupaten Gresik mencerminkan perpaduan antara peran ekonomi, agama, dan kebudayaan yang kuat, menjadikannya salah satu pusat sejarah dan perkembangan masyarakat di pantai utara Jawa yang penting hingga saat ini.***




