Oleh: Oleh : Eko Priaji, S.I.P., M.A.P. (Ketua PAC ISNU Badegan dan Kasi Pemerintahan Desa Karangjoho Kecamatan Badegan)
*********
Ramadhan bukan sekadar pergeseran jam makan. Ia adalah sebuah proyek sosial raksasa yang dirancang untuk meruntuhkan tembok pemisah antara si kaya dan si miskin. Di dalam “laboratorium” ini, lapar bukan lagi penderitaan, melainkan alat pendidikan untuk menciptakan keadilan.
Teologi Pembebasan dalam Islam
Islam sejak awal lahir sebagai agama yang membawa misi pembebasan bagi kaum tertindas (mustadh’afin). Puasa Ramadhan adalah manifestasi paling konkret dari teologi ini. Melalui perintah berpuasa, Tuhan “memaksa” setiap individu, tanpa memandang status sosialnya, untuk merasakan kerentanan yang sama. Dalam kacamata teologi pembebasan, iman seseorang tidak dianggap sah secara sosial jika ia menutup mata terhadap ketimpangan di sekitarnya. Puasa mengajarkan bahwa ketakwaan sejati harus berimplikasi pada perbaikan nasib sesama.
Hal ini dipertegas oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad:
“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.”
Hadits ini menjadi dasar bahwa lapar yang kita rasakan saat Ramadhan seharusnya memicu kesadaran bahwa ada “tetangga” yang merasakan lapar itu sepanjang tahun. Ramadhan mengoreksi orientasi keberagamaan kita agar tidak hanya terjebak pada ritualitas formal, tetapi bergerak menuju pembelaan terhadap hak-hak kemanusiaan.
Perspektif Sosial Menurut Ali Shariati
Sosiolog Muslim Ali Shariati memandang bahwa agama seringkali disalahgunakan untuk menidurkan kesadaran kelas. Namun, ia melihat puasa sebagai instrumen “pembangun kesadaran”. Bagi Shariati, kesenjangan kelas terjadi karena manusia kehilangan koneksi kemanusiaannya akibat sekat kekayaan. Ramadhan hadir untuk menghancurkan berhala konsumerisme yang membuat orang kaya merasa “berbeda” secara biologis dari orang miskin.
Perspektif ini sejalan dengan sebuah Hadits Qudsi yang sangat menyentuh:
“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: ‘Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu namun engkau tidak memberi-Ku makan.’ Manusia bertanya: ‘Wahai Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?’ Allah berfirman: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu namun engkau tidak memberinya makan? Ketahuilah, jika engkau memberinya makan, niscaya engkau mendapati-Ku di sisinya’.” (HR. Muslim)
Melalui kacamata Shariati dan hadits ini, kita memahami bahwa menjumpai Tuhan di bulan Ramadhan bukan hanya melalui salat malam, tetapi melalui pelayanan kepada mereka yang lapar.
Lapar Bukan Sekadar Ritual, Tapi Jembatan Emosional
Secara biokimia, lapar yang dirasakan orang kaya dan orang miskin adalah sama: perih dan melemahkan. Inilah “jembatan emosional” yang dibangun oleh Ramadhan. Tanpa puasa, empati seringkali hanya menjadi konsep abstrak di kepala. Namun, dengan puasa, empati menjadi rasa yang dialami oleh tubuh. Saat seorang yang berkecukupan merasa lemas di siang hari, ia sedang melakukan simulasi penderitaan kaum dhuafa.
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bahwa merasakan lapar adalah bagian dari integritas seorang pemimpin dan manusia berakhlak. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:
“Keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang dari makanan selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat.” (HR. At-Tirmidzi)
Keteladanan ini menunjukkan bahwa rasa lapar adalah cara untuk menjaga hati agar tetap lembut dan tidak sombong. Jembatan emosional ini sangat penting agar kita tidak melihat kemiskinan sebagai pemandangan yang lewat begitu saja, melainkan sebagai rasa sakit yang juga kita rasakan.
Dari Rasa Iba Menjadi Aksi Nyata (Zakat dan Sedekah)
Empati yang lahir di laboratorium Ramadhan harus meledak menjadi aksi redistribusi kekayaan. Islam tidak membiarkan rasa iba menguap begitu saja; ia diikat dengan kewajiban Zakat Fitrah dan anjuran sedekah yang masif. Inilah momen di mana akumulasi modal yang tersentralisasi mulai didistribusikan kembali ke lapisan bawah.
Kedermawanan di bulan Ramadhan harus melampaui kebiasaan di bulan-bulan lainnya, sebagaimana digambarkan dalam hadits:
“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemui beliau…” (HR. Bukhari & Muslim)
Lonjakan kedermawanan ini bukan sekadar mengejar pahala personal, melainkan upaya sistematis untuk memutar roda ekonomi di tingkat akar rumput. Zakat dan sedekah adalah instrumen praktis untuk memastikan bahwa di akhir bulan suci, tidak ada satu pun rumah yang dapurnya tidak mengepul.
Transformasi Sosial: Jaring Pengaman Berbasis Komunitas
Visi akhir dari Ramadhan adalah transformasi sosial: terciptanya jaring pengaman sosial yang organik. Masyarakat yang telah lulus dari “Laboratorium Ramadhan” seharusnya memiliki otot sosial yang kuat. Mereka tidak lagi acuh terhadap penderitaan kolektif. Komunitas yang kuat adalah komunitas yang memiliki sistem pendeteksian dini terhadap kemiskinan di sekitarnya.
Visi masyarakat ideal ini digambarkan dalam hadits populer:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan merasa demam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ramadhan melatih kita menjadi “satu tubuh” tersebut. Transformasi sosial yang sejati terjadi ketika solidaritas tidak lagi dipicu oleh kalender hijriah, melainkan telah menjadi karakter yang menetap. Dengan demikian, kesenjangan kelas bukan lagi jurang pemisah, melainkan ruang untuk saling menopang demi tegaknya keadilan sosial bagi seluruh umat.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq





