Aswajanews — Menunggu waktu berbuka puasa tak selalu harus di pusat keramaian atau kafe kekinian. Di Ponorogo, ada satu tempat ngabuburit yang tak hanya menenangkan, tetapi juga sarat nilai sejarah: Masjid Baiturrohman.
Masjid yang terletak di Dusun Setono, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis ini diyakini sebagai masjid tertua di Ponorogo. Berdasarkan prasasti yang masih tertempel di salah satu bagian bangunan, masjid tersebut dibangun pada tahun 1600 oleh tiga kiai, yakni Kiai Donopuro, Kiai Noyopuro, dan Kiai Wongsopuro.
Ketiganya merupakan pengikut Pangeran Sumende. Rombongan Pangeran Sumende datang ke wilayah Setono karena situasi politik di Kartosuro saat itu tengah dilanda peperangan melawan Belanda.
Di desa yang berada di tepian Kali Keyang tersebut, Pangeran Sumende dan pengikutnya memilih singgah dan menetap. Karena seluruh rombongan telah memeluk Islam, mereka pun mendirikan masjid sebagai pusat ibadah dan syiar agama. Tak hanya itu, di depan masjid juga berdiri pondok pesantren yang menjadi cikal bakal penyebaran Islam di Bumi Reog.
Kini, suasana Masjid Baiturrohman masih terasa teduh dan asri. Arsitekturnya yang klasik berpadu dengan nuansa kampung yang tenang membuat tempat ini cocok untuk menenangkan diri sembari menunggu azan Magrib. Duduk di serambi masjid, menikmati semilir angin sore, sekaligus menyelami jejak sejarah Islam di Ponorogo, tentu menjadi pengalaman ngabuburit yang berbeda.
Bagi Anda yang ingin mengisi waktu Ramadan dengan aktivitas yang lebih bermakna, berkunjung ke masjid tertua di Ponorogo ini bisa menjadi pilihan. Selain beribadah, Anda juga dapat mengenal lebih dekat sejarah panjang penyebaran Islam di daerah yang dikenal sebagai Kota Reog.





