AswajaNews – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ponorogo merilis Berita Resmi Statistik (BRS) Luas Panen dan Produksi Padi 2025 (angka tetap) pada 20 Februari 2026. Hasilnya, kinerja sektor padi Ponorogo menunjukkan peningkatan signifikan baik dari sisi luas panen maupun produksi, yang berdampak langsung pada pasokan beras daerah.
Pada 2025, luas panen padi di Kabupaten Ponorogo mencapai 74,20 ribu hektare dengan produksi padi sebesar 436,30 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras Ponorogo pada 2025 mencapai 251,93 ribu ton.
Jumlah tersebut meningkat 32,94 ribu ton atau 15,04 persen dibanding produksi beras 2024 yang sebesar 218,98 ribu ton. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan luas panen 17,04 persen dibanding tahun sebelumnya.
Capaian luas panen dan produksi padi (angka tetap) 2025 sangat krusial bagi ketahanan pangan daerah, stabilitas harga beras lokal, dan kesejahteraan petani. Produksi beras menentukan tingkat pasokan untuk konsumsi penduduk, memengaruhi inflasi pangan, serta menjadi dasar perumusan kebijakan pertanian dan distribusi pangan di daerah.
Dengan produksi beras mencapai 251,93 ribu ton, Ponorogo berada pada posisi surplus terhadap kebutuhan konsumsi penduduknya. Kondisi ini memperkuat ketahanan pangan lokal karena ketersediaan beras domestik relatif aman dan tidak bergantung pada pasokan luar daerah.
Sebagai salah satu sentra padi di wilayah barat Jawa Timur, Kabupaten Ponorogo menjadi salah satu daerah penghasil gabah utama, hingga menduduki posisi sepuluh besar daerah dengan produksi padi tertinggi di provinsi ini.
Hal ini memperkuat posisi Jawa Timur sebagai provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia. Dilansir dari laporan media nasional Times Indonesia (2025), Jawa Timur tercatat menjadi provinsi dengan produksi beras tertinggi secara nasional sejak 2020. Bahkan pada 2024, produksi beras Jawa Timur mencapai sekitar 5,4 juta ton.
Kenaikan luas panen dan produksi menunjukkan aktivitas pertanian yang meningkat. Terlebih Ponorogo memiliki pola panen yang dinilai unik dibandingkan daerah lain karena waktu panen dapat berlangsung setiap bulan berbeda-beda di setiap kecamatan.
Beberapa kecamatan bahkan mampu menanam hingga empat kali dalam satu tahun. Sehingga, volume gabah yang dihasilkan petani bertambah.
Oleh karena itu, peluang pendapatan petani juga meningkat apabila harga gabah stabil. Tentu hal tersebut juga berdampak pada perputaran ekonomi perdesaan yang lebih kuat.





