Aswajanews, ponorogo – Bagi warga Ponorogo dan sekitarnya, mencari lokasi ngabuburit yang nyaman sekaligus menawarkan suasana berbeda menjadi bagian dari tradisi Ramadan. Kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) di Kecamatan Sampung kini bisa menjadi salah satu inspirasi tempat menunggu waktu berbuka puasa.
Meski pembangunannya belum sepenuhnya rampung, monumen setinggi 126 meter tersebut sudah menyedot perhatian masyarakat. Area yang luas dan terbuka membuat pengunjung leluasa berjalan santai sambil menikmati panorama sore. Dari ketinggian kawasan itu, hamparan perbukitan di sekitarnya menghadirkan latar senja yang memikat, cocok untuk berswafoto atau sekadar melepas penat setelah beraktivitas seharian.
Setiap sore selama Ramadan, suasana di sekitar MRMP mulai ramai. Warga datang bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Anak-anak tampak bermain di area terbuka, sementara orang dewasa berbincang santai sembari menunggu azan magrib. Momen kebersamaan inilah yang menjadikan tempat ini terasa hangat dan hidup.
Menariknya, ngabuburit di MRMP tak hanya soal menikmati suasana. Deretan pedagang lokal turut meramaikan kawasan dengan menjajakan beragam menu takjil dan makanan berbuka. Mulai dari soto ayam, bakso, aneka gorengan, hingga minuman segar tersedia dengan harga terjangkau. Kehadiran lapak-lapak tersebut memudahkan pengunjung yang ingin langsung berbuka di lokasi atau membawa pulang hidangan.
Ramainya pengunjung juga membawa dampak positif bagi warga sekitar. Pedagang dan juru parkir merasakan peningkatan penghasilan selama Ramadan. Aktivitas ekonomi tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, termasuk dari luar daerah yang penasaran dengan ikon baru Ponorogo tersebut.
Dengan kombinasi panorama, ruang terbuka, dan pilihan kuliner, kawasan MRMP dapat menjadi alternatif inspiratif untuk mengisi waktu ngabuburit. Selain menikmati keindahan sore, pengunjung sekaligus turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.





