AswajaNews – Di balik kemeriahan dentum bambu yang kini menghiasi festival-festival besar, Musik Patrol Jember menyimpan narasi sejarah yang panjang. Berawal dari alat komunikasi darurat di era pra-kemerdekaan, kesenian ini telah berevolusi menjadi identitas kultural masyarakat Pandhalungan yang tak terpisahkan.
Sejarah mencatat bahwa embrio Musik Patrol bermula dari fungsi kentongan sebagai media komunikasi massa di pedesaan Jember. Jauh sebelum era digital, ketukan kayu nangka atau bambu adalah “bahasa sandi” warga. Irama tertentu menandakan adanya pencurian, kebakaran, hingga bencana alam.
Istilah “Patrol” sendiri merupakan serapan dari bahasa Belanda patrouille atau bahasa Inggris patrol, yang merujuk pada aktivitas ronda malam. Di tangan warga Jember, aktivitas menjaga keamanan ini perlahan bersalin rupa menjadi kegiatan musikal yang terorganisir.
Kekhasan Musik Patrol Jember terletak pada akulturasi budaya Pandhalungan, yakni titik temu antara kultur Jawa dan Madura. Sentuhan Madura memberikan karakter ritme yang cepat, tegas, dan meledak-ledak, sementara sentuhan Jawa memberikan harmoni melodi yang lebih halus dan mengalir.
Perpaduan inilah yang membedakan Patrol Jember dengan musik kentongan di daerah lain seperti Banyumas atau Jawa Tengah, menjadikannya lebih dinamis dan enerjik.
Memasuki tahun 1970-an hingga 1980-an, peran Patrol meluas. Kelompok pemuda mulai menggunakan alat musik ini untuk membangunkan warga saat sahur di bulan Ramadan. Pada fase inilah unsur estetika mulai masuk; seruling bambu dan kendang sederhana mulai ditambahkan untuk membawa melodi lagu-lagu populer.
Puncaknya terjadi pada dekade 1990-an ketika Pemerintah Kabupaten Jember mulai memformalkan kesenian ini melalui festival tahunan. Patrol Jember naik kelas dari gang-gang sempit menuju panggung besar dengan standarisasi instrumen seperti taktak, penerus, hingga gong bambu.
Kini, Musik Patrol telah menjadi bagian dari industri kreatif Jember, seringkali tampil bersandingan dengan ajang internasional seperti Jember Fashion Carnaval (JFC). Transformasi ini membuktikan bahwa tradisi yang berakar kuat pada kebutuhan sosial masyarakat akan selalu menemukan jalan untuk tetap relevan di zaman modern.***





