AswajaNews – Langit di atas Teluk Prigi perlahan mulai benderang, namun ribuan orang sudah memadati bibir pantai. Bau harum kemenyan dan bunga mawar menyeruak di antara aroma amis laut yang khas.
Di tengah kerumunan, sebuah gunungan raksasa berisi hasil bumi dan tumpeng robyong berdiri gagah, siap untuk diantar menuju peraduan terakhirnya: samudera luas.
Inilah Larung Sembonyo, sebuah ritual adat tahunan yang bukan sekadar tontonan wisata, melainkan napas spiritual bagi masyarakat pesisir Watulimo, Trenggalek.
Bagi masyarakat setempat, Sembonyo adalah cara mereka merawat ingatan. Ritual ini berakar dari legenda Raden Tumenggung Yudha Negara, seorang prajurit Mataram yang berhasil “membuka” wilayah Prigi.
Pernikahannya dengan Putri Gambar Intan menjadi tonggak sejarah yang hingga kini divisualisasikan melalui sepasang boneka tiruan pengantin dari tepung beras—yang disebut Sembonyo.
Puncak acara dimulai ketika tandu berisi sesaji diarak menuju dermaga. Ribuan mata terpaku pada iring-iringan penari dan pemuka adat yang mengenakan pakaian tradisional hitam khas Mataraman.
Saat kapal utama mulai bergerak menjauhi daratan, puluhan kapal nelayan yang dihias warna-warni mengikuti di belakang, menciptakan pemandangan kolosal di tengah teluk.
Ketika sesaji akhirnya dilepas ke ombak di koordinat tertentu, sorak-sorai bercampur doa pecah. Warga meyakini, dengan menjaga tradisi ini, laut akan tetap ramah dan memberikan keberkahan bagi para pencari ikan.
Kini, Larung Sembonyo telah berevolusi. Tanpa menghilangkan kesakralannya, Pemerintah Kabupaten Trenggalek berhasil mengemas ritual ini menjadi magnet pariwisata nasional.
Larung Sembonyo adalah bukti nyata bahwa di era modernisasi, masyarakat Trenggalek tidak kehilangan arah. Mereka berdiri tegak di atas identitasnya sebagai masyarakat bahari yang religius dan menghargai sejarah.
Selama ombak selatan masih berdebur dan jaring nelayan masih terisi, kidung syukur Sembonyo akan terus berkumandang, menjaga harmoni antara manusia, pencipta, dan alam semesta.***





