AswajaNews – Tari Gandrung Banyuwangi bukan sekadar pertunjukan seni tradisional. Ia adalah denyut nadi budaya masyarakat Osing—suku asli Banyuwangi—yang menyimpan kisah sejarah, spiritualitas, hingga ekspresi cinta dan rasa syukur.
Dari panggung rakyat hingga festival internasional, Gandrung tetap berdiri sebagai ikon budaya di ujung timur Pulau Jawa.
Sejarah Tari Gandrung tak bisa dilepaskan dari masa akhir Kerajaan Blambangan pada abad ke-18. Tarian ini diyakini lahir sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat atas terbebasnya mereka dari penjajahan dan wabah penyakit.
Kata gandrung sendiri berarti “terpesona” atau “jatuh cinta”—sebuah metafora tentang kecintaan rakyat pada kehidupan dan kebebasan.
Awalnya, penari Gandrung adalah laki-laki yang berdandan perempuan, dikenal sebagai Gandrung Lanang. Seiring waktu, peran ini digantikan oleh perempuan, dan hingga kini penari Gandrung identik dengan sosok perempuan anggun nan enerjik.
Sejak 2012 yang lalu, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar Gandrung Sewu, pertunjukan kolosal yang melibatkan ribuan penari Gandrung di tepi Pantai Boom. Festival ini menjadi magnet wisata budaya dan masuk dalam kalender pariwisata nasional.
Melalui Gandrung Sewu, Tari Gandrung tidak hanya bertahan, tetapi juga berevolusi menjadi representasi kebanggaan daerah yang dikenal hingga mancanegara.
Di tengah modernisasi, Tari Gandrung tetap hidup dalam berbagai perayaan adat, hajatan, hingga festival resmi. Bagi masyarakat Banyuwangi, Gandrung adalah simbol keramahan, kekuatan perempuan, dan semangat kolektif.
Tak berlebihan jika Tari Gandrung disebut sebagai “roh” budaya Banyuwangi—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu tarian penuh pesona.
Pelestarian Tari Gandrung bukan hanya tugas seniman, tetapi juga generasi muda dan pemangku kebijakan. Di tengah arus globalisasi, Gandrung mengajarkan bahwa tradisi bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Tari Gandrung Banyuwangi adalah kisah tentang cinta—cinta pada tanah kelahiran, budaya, dan kehidupan itu sendiri. Selama gamelan masih berdentang dan sampur masih melayang, Gandrung akan terus menari di hati masyarakat Banyuwangi.***





