AswajaNews – Kesenian Jaranan atau yang juga dikenal sebagai Kuda Lumping menjadi salah satu warisan budaya yang tumbuh kuat di wilayah Kediri Raya, meliputi Kediri, Blitar, Tulungagung hingga Trenggalek.
Hingga kini, pertunjukan tradisional ini masih kerap digelar dalam berbagai acara masyarakat, mulai dari hajatan, bersih desa, hingga peringatan hari besar.
Jaranan identik dengan properti kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit, yang dimainkan para penari dengan iringan gamelan dan kendang.
Gerak tariannya enerjik, dinamis, serta sarat unsur magis dan spiritual yang menjadi ciri khas pertunjukan.
Di Kediri dan sekitarnya, Jaranan berkembang dalam berbagai gaya dan pakem. Setiap daerah memiliki karakter musik, kostum, dan pola gerak yang berbeda, namun tetap mempertahankan unsur utama berupa atraksi kuda kepang dan adegan trance (kesurupan) yang kerap menjadi daya tarik penonton.
Dalam pertunjukan tertentu, penari yang mengalami trance (keadaan kesadaran yang berubah) dan diyakini tengah berada dalam pengaruh kekuatan spiritual.
Atraksi tersebut biasanya disertai adegan ekstrem seperti memakan pecahan kaca atau kebal terhadap cambukan. Meski demikian, seluruh rangkaian tetap diawasi oleh pawang yang bertugas menjaga keselamatan pemain.
Tokoh-tokoh dalam Jaranan juga beragam, mulai dari prajurit berkuda hingga figur barongan atau celeng yang melambangkan kekuatan dan keberanian.
Nilai-nilai kepahlawanan, solidaritas, dan spiritualitas menjadi pesan moral yang tersirat dalam setiap pementasan.
Di tengah modernisasi, kelompok seni Jaranan terus berupaya beradaptasi. Beberapa sanggar mulai memadukan unsur musik modern tanpa meninggalkan pakem tradisional. Pemerintah daerah pun turut mendorong pelestarian melalui festival budaya dan pembinaan komunitas seni.
Bagi masyarakat Kediri, Blitar, dan Tulungagung, Jaranan bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Keberadaannya menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.***





