AswajaNews – Di tengah gempuran budaya pop, kesenian Wayang Kulit khas Jawa Timuran atau yang sering disebut sebagai Wayang Jawatimuran tetap menunjukkan taringnya sebagai identitas kultural yang kuat.
Berbeda dengan gaya Surakarta atau Yogyakarta yang dikenal dengan kehalusan dan pakem yang ketat, Wayang Jawa Timuran menawarkan estetika yang lebih berani, lugas, dan dinamis.
Perbedaan ini bukan sekadar soal dialek, melainkan mencakup anatomi wayang, teknik mendalang, hingga musik pengiringnya.
Karakter Visual dan Anatomi yang Unik
Wayang Kulit Jawa Timuran memiliki ciri fisik yang berbeda dari gaya Jawa Tengah. Ukuran wayangnya cenderung lebih ramping namun dengan ornamen tatahan yang lebih padat dan tegas.
Salah satu ciri paling menonjol adalah bentuk “Gusen” pada bagian mulut tokoh-tokoh tertentu dan teknik pewarnaan (sunggingan) yang lebih kontras. Selain itu, posisi tangan wayang sering kali dibuat lebih fleksibel untuk mendukung adegan perang yang lebih atraktif.
Gamelan dan Irama “Gagrak” Jawa Timuran
Dari sisi musikal, perbedaan mencolok terletak pada penggunaan instrumen. Gaya Jawa Timuran menggunakan Gendhing-Gendhing Gagrak Jawa Timuran yang memiliki tempo lebih cepat dan menghentak.
“Irama kendang dalam Wayang Jawa Timuran itu lebih progresif. Ini mencerminkan karakter masyarakat Jawa Timur yang terbuka, apa adanya, dan penuh semangat,” ujar salah satu pengamat budaya di Surabaya.
Instrumen Slenthem dan Saron dimainkan dengan teknik imbal yang rapat, menciptakan suasana pertunjukan yang selalu terasa hidup, terutama pada bagian Goro-Goro.
Dialek dan Gaya Komunikasi Dalang
Dalang gaya Jawa Timuran dikenal dengan kemampuan komunikasi yang lebih cair dengan penonton. Penggunaan dialek khas seperti Suroboyoan atau Malangan sering kali diselipkan dalam percakapan tokoh punakawan.
Lelucon yang dilemparkan cenderung lebih spontan dan blak-blakan (lugas), yang menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda. Tokoh punakawan dalam versi Jawa Timuran pun memiliki posisi sentral sebagai penyampai kritik sosial yang tajam namun tetap jenaka.
Tantangan di Era Digital
Meski memiliki basis penggemar yang loyal di wilayah seperti Mojokerto, Jombang, Malang, hingga Banyuwangi, kesenian ini menghadapi tantangan regenerasi. Saat ini, banyak dalang muda mulai mengombinasikan elemen visual seperti tata lampu LED dan layar digital untuk menarik minat milenial.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus berupaya melestarikan seni ini dengan menggelar festival tahunan dan menyediakan ruang tampil di UPT Taman Budaya Jawa Timur.***





