AswajaNews – Di alun-alun Ponorogo, suara gamelan menghentak sore itu. Debu tipis beterbangan saat seorang penari mengangkat topeng raksasa berbentuk kepala singa dengan hiasan bulu merak mengembang megah. Beratnya bisa mencapai puluhan kilogram, namun bertumpu hanya pada gigi sang penari. Sorak penonton pecah. Itulah Reog Ponorogo—kesenian yang bukan sekadar tontonan, melainkan identitas.
Bagi masyarakat Ponorogo, reog bukan hanya pertunjukan. Ia adalah napas panjang sejarah, simbol keberanian, sekaligus kebanggaan kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Jejak Legenda dan Simbol Perlawanan
Reog dipercaya berakar dari kisah Raja Klono Sewandono yang hendak meminang Dewi Songgolangit. Dalam perjalanannya, ia menghadapi sosok Singa Barong—makhluk berkepala singa dengan mahkota bulu merak. Dari legenda inilah lahir karakter-karakter utama reog: Klono Sewandono yang gagah, Jathil yang lincah, Warok yang sakti, dan Singa Barong yang perkasa.
Namun sebagian budayawan menyebut, reog juga menyimpan simbol kritik sosial pada masa lampau. Singa dan merak dimaknai sebagai sindiran terhadap kekuasaan. Reog menjadi bahasa rakyat—disampaikan lewat tari, musik, dan topeng.
Warok: Laku Hidup dan Keteguhan Jiwa
Di balik kemegahan panggung, ada sosok warok—figur sentral yang dihormati. Warok bukan sekadar pemain, melainkan orang yang menjalani laku spiritual, disiplin, dan pengendalian diri. Dalam tradisi lama, warok dipercaya memiliki kekuatan batin yang menopang penampilan Singa Barong.
Kini, makna warok mengalami transformasi. Generasi muda memaknainya sebagai simbol ketangguhan dan dedikasi pada seni. “Warok hari ini adalah mereka yang menjaga reog tetap hidup,” ujar salah satu pelatih reog di Ponorogo.
Dentum Gamelan dan Energi Kolektif
Pertunjukan reog selalu diawali dengan tari pembuka, disusul kemunculan Jathil yang menari energik di atas kuda kepang. Irama kendang, gong, dan slompret berpadu membangun atmosfer magis. Saat Singa Barong muncul, penonton biasanya berdiri, mengabadikan momen lewat gawai, atau sekadar terpaku menyaksikan kekuatan rahang sang penari.
Berat dadak merak—sebutan untuk topeng Singa Barong—bisa mencapai 40–50 kilogram. Penari menggigit kayu penyangga dan mengangkatnya tanpa bantuan tangan. Atraksi ini menjadi klimaks yang selalu dinanti.
Dari Kampung ke Panggung Dunia
Setiap tahun, Ponorogo menggelar Festival Reog Nasional yang diikuti puluhan grup dari berbagai daerah. Reog juga tampil dalam misi kebudayaan ke luar negeri, dari Asia hingga Eropa. Di sekolah-sekolah, ekstrakurikuler reog menjadi ruang regenerasi.
Meski demikian, tantangan tetap ada: komersialisasi, perubahan selera generasi muda, hingga perdebatan klaim budaya di masa lalu. Pemerintah daerah bersama komunitas seniman kini aktif mendorong pelestarian melalui pendidikan, festival, dan digitalisasi arsip pertunjukan.
Identitas yang Tak Tergantikan
Bagi warga Ponorogo, reog bukan sekadar seni tradisi. Ia hadir dalam perayaan, kirab, penyambutan tamu, hingga agenda kenegaraan. Nama “Ponorogo” hampir selalu disandingkan dengan “Reog”—dua kata yang tak terpisahkan.
Di tengah arus modernisasi, reog tetap berdiri tegak. Dentum gamelannya masih memanggil warga untuk berkumpul. Topeng Singa Barong masih terangkat tinggi, menantang gravitasi dan zaman.
Dan setiap kali bulu merak itu mengembang di atas kepala singa, masyarakat Ponorogo tahu: budaya mereka masih hidup.***




