Aswajanews – Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 1 Ponorogo mengambil langkah progresif dalam memperkuat pondasi pendidikan karakter. Pada hari Selasa, 6 Januari 2026, bertempat di Aula MAN 1 Ponorogo, telah dilaksanakan Bimbingan Teknis (Bintek) Percepatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Acara ini diikuti oleh 40 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh anggota KKMA 1 Ponorogo. Kehadiran para delegasi ini menunjukkan komitmen kolektif madrasah di bawah naungan KKMA 1 untuk bertransformasi menuju pendidikan yang lebih humanis.

Dalam sambutannya, Ketua KKMA 1 Ponorogo, Dr. Nuruun Nahdiyyah Kurnia Yuliastin, M.Pd.I, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas antusiasme dan keterlibatan aktif seluruh anggota KKM.
“Kehadiran Bapak dan Ibu di sini adalah bukti nyata dedikasi kita bersama untuk membawa perubahan positif di madrasah. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, kita ingin memastikan bahwa setiap langkah pendidikan yang kita ambil senantiasa dilandasi oleh kasih sayang dan keberpihakan pada siswa,” ujar beliau di hadapan para peserta.
Bintek ini menghadirkan Fasilitator Nasional, Dr. Nuruun Nahdiyyah dan Bekti Prasetyorini. Para narasumber membedah mendalam konsep Panca Cinta sebagai solusi tantangan pendidikan masa kini. Prinsipnya, keberhasilan akademis siswa sangat bergantung pada rasa aman dan dicintai yang mereka rasakan di lingkungan sekolah.

Implementasi KBC ini berfokus pada lima pilar transformatif:
- Penguatan Kebijakan Madrasah yang selaras dengan nilai-nilai kasih sayang.
- Internalisasi Panca Cinta (Cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu, dan lingkungan) sebagai fondasi interaksi kelas.
- Penerapan Bintek Konvensi Hak Anak (KHA) untuk memastikan kebijakan berpihak pada kepentingan terbaik siswa.
- Penguatan Lembaga Layanan Ramah Anak guna menjamin madrasah sebagai ruang aman bebas kekerasan dan perundungan.
- Pendisiplinan Berbasis Hak Anak, di mana guru berperan sebagai mentor yang mendampingi tumbuh kembang santri dengan empati.

Ilmu yang didapatkan dari para pakar nasional ini akan segera disosialisasikan dan diinternalisasikan ke dalam sistem pembelajaran di lingkungan madrasah masing-masing. Langkah akselerasi ini diharapkan mampu membawa energi baru bagi seluruh tenaga pendidik, sehingga madrasah tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi tempat yang menyejukkan bagi jiwa para siswa. (iim)





