Aswajanews — Alun-alun Kabupaten Ponorogo berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (28/12/2025). Ribuan pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun dari berbagai penjuru daerah berkumpul dalam kegiatan Bumi Reog Berdzikir (BRB), menundukkan kepala, merapatkan barisan, dan memanjatkan doa terbaik bagi Indonesia.
Sejak pagi buta, para pendekar telah berdatangan. Mereka datang bukan untuk unjuk kekuatan, melainkan menyatukan hati dengan berdzikir, berdoa, dan berharap bangsa ini selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Di antara lautan hitam seragam pesilat khas PSHT, ada Rohmad Wahyu, 20 yang tampak duduk santai di pinggir alun-alun. Bersama empat rekannya, ia berangkat sejak subuh dari daerah asalnya, Kecamatan Badegan. Demi mengikuti kegiatan ini, Rohmad rela meliburkan diri dari pekerjaannya sebagai penjaga warung.
“Sudah tiga kali ikut acara ini. Sengaja berangkat pagi, ngopi dulu biar tenang. Kayaknya pesertanya banyak banget,” ujarnya sambil tersenyum, sebelum acara dimulai.
Bagi Rohmad dan ribuan pesilat lainnya, Bumi Reog Berdzikir bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan batin, tempat persaudaraan diuji dan diperkuat, sekaligus pengingat bahwa di balik identitas perguruan silat yang garang terdapat sisi humanis yang juga melekat di setiap pendekar.
Suasana khidmat menyelimuti alun-alun saat dzikir dan doa bersama dimulai. Doa yang dipanjatkan sejumlah tokoh agama ditujukan untuk keselamatan tidak hanya untuk Ponorogo, tetapi untuk Indonesia yang majemuk dan penuh tantangan.
Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, Moerjoko, menegaskan bahwa nilai persaudaraan adalah ruh utama PSHT yang harus terus dijaga dan diwariskan.
Ia menekankan bahwa Indonesia berdiri di atas perbedaan suku, budaya, dan latar belakang. Jika dirawat dengan semangat persaudaraan, perbedaan justru menjadi kekuatan yang menyatukan.
“Yang paling menonjol dari PSHT adalah persaudaraan. Dari situlah kita merawat persatuan bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, PSHT juga memanjatkan doa bagi para korban bencana alam di sejumlah daerah, seperti Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Doa itu bukan sekadar lantunan kata, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata seperti penggalangan bantuan dan keterlibatan langsung anggota PSHT di lapangan.
Melalui Bumi Reog Berdzikir, PSHT Pusat Madiun berharap nilai luhur organisasi yang meliputi persaudaraan, kebangsaan, dan kemanusiaan terus hidup di hati generasi penerus. Perguruan silat, kata Moerjoko, tidak hanya berperan membentuk fisik dan mental, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan keutuhan NKRI.
“Kita hadir untuk membantu dan mendoakan. Semua yang bergerak adalah saudara-saudara kita,” kata dia.
Turut hadir, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak Menurut Emil, pencak silat adalah warisan luhur yang tak hanya layak dijaga, tetapi juga dimuliakan. Jawa Timur, kata dia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi provinsi yang nyengkuyung (mendukung sepenuh hati) tumbuhnya pencak silat sebagai kebanggaan bersama.
Dia mengaku merasakan energi persaudaraan yang kuat saat memasuki Ponorogo dengan mengenakan seragam SH Terate. Bagi Emil, itu bukan sekadar pakaian, melainkan simbol doa dan harapan.




