AswajaNews – Jombang sejak lama dikenal sebagai Kota Santri, dan sebutan itu tidak lahir secara tiba-tiba. Dalam profil resminya, Pemerintah Kabupaten Jombang menyebut daerah ini dikenal karena banyaknya pondok pesantren dan bahkan ada pameo bahwa Jombang merupakan pusat pesantren di tanah Jawa. Identitas religius itu tumbuh dari sejarah panjang pendidikan Islam yang mengakar dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya dari citra belakangan ini.
Kekuatan tradisi religius Jombang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan pesantren-pesantren besar yang lahir dan tumbuh di wilayah ini. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Pesantren Tebuireng di Cukir, yang menurut sumber resmi Tebuireng didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 3 Agustus 1899.
Pesantren ini lahir di tengah perubahan sosial di kawasan industri gula Jombang dan kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh secara nasional. Tebuireng bahkan tidak hanya dikenal sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan keislaman, kebangsaan, dan kepemimpinan ulama.
Selain Tebuireng, jejak religius Jombang juga kuat di Tambakberas. Portal resmi Pemkab Jombang menulis pesantren ini berawal dari perkampungan santri yang dibangun Kiai Abdus Salam dan dikenal pula sebagai Pondok Selawe.
Perkembangannya kemudian makin menonjol saat dipimpin KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh penting yang ikut menguatkan posisi Jombang dalam sejarah pesantren dan pergerakan Islam di Indonesia.
Dalam perkembangannya, tradisi religius Jombang tetap bertahan hingga kini. Pemerintah Kabupaten Jombang pada 2024 bahkan meluncurkan program interkoneksi wisata religi edukatif yang menegaskan sejarah panjang daerah ini dengan tokoh-tokoh ulama besar seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Program itu juga menegaskan peran empat pesantren besar—Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso Peterongan—sebagai pusat pendidikan agama dan spiritual yang membentuk identitas Jombang.***





