*********
Oleh: Ayik Heriansyah
Di tengah perundingan antara Iran dan Amerika di Islamabad, Atha Abu Rusytah (Amir Hizbut Tahrir) mengunggah narasi tentang Iran di laman facebook resminya (11/4/2026).
Narasi lama Hizbut Tahrir sejak revolusi Islam Iran (1979) yang diaktualkan kembali yang mengatakan bahwa Iran dalam orbit Amerika. Iran negara satelit yang beredar dalam kepentingan Amerika. Narasi ini sering digunakan oleh Hizbut Tahrir untuk mendeskreditkan Iran dengan menggambarkan Iran sebagai aktor yang bermain “dua kaki”.
Dalam unggahannya Atha Abu Rusytah mengungkit kembali keterlibatan Iran pasca invasi Amerika di Afghanistan (2001) dan Irak (2003) sebagai bukti. Iran dan Amerika Serikat sempat memiliki irisan kepentingan di Afghanistan pasca-2001, tetapi kerja sama tersebut bersifat terbatas dan kontekstual.
Sejak 1990-an, Iran memusuhi Taliban dan mendukung Aliansi Utara. Iran mendukung Aliansi Utara karena dimotori oleh faksi-faksi beraliran Syiah yang akan menahan pergerakan faksi-faksi lain memasuki wilayah Iran.
Setelah serangan 11 September 2001, kepentingan Iran dan Amerika bertemu dalam upaya melemahkan Taliban. Iran memberikan dukungan tidak langsung melalui bantuan politik, logistik, dan intelijen kepada Aliansi Utara, yang berkontribusi pada jatuhnya kekuasaan Taliban.
Peran Iran juga tampak dalam proses politik pasca-konflik, terutama pada Konferensi Bonn 2001 yang menjadi landasan pembentukan pemerintahan baru Afghanistan di bawah Hamid Karzai. Dalam forum ini, Iran berpartisipasi aktif dalam proses diplomasi dan ikut mendorong terbentuknya pemerintahan transisi. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berperan dalam aspek militer, tetapi juga berkontribusi pada upaya stabilisasi politik awal Afghanistan.
Meski demikian, kerja sama ini tidak dapat ditafsirkan sebagai hubungan strategis atau subordinasi Iran terhadap Amerika. Setelah fase awal tersebut, hubungan kedua negara kembali diwarnai ketegangan, terutama terkait isu nuklir dan pengaruh regional. Karena itu, kerja sama di Afghanistan lebih tepat dipahami sebagai konvergensi kepentingan sementara, bukan bukti bahwa Iran secara umum membantu atau berada dalam orbit Amerika.
Dalam konteks invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003, Iran juga tidak terlibat sebagai mitra Amerika. Memang benar bahwa jatuhnya rezim Saddam Hussein membawa keuntungan strategis bagi Iran, mengingat rival regional utamanya tersingkir dari panggung kekuasaan.
Namun, keuntungan geopolitik yang diperoleh Iran bukanlah hasil dari kerja sama langsung dengan Amerika. Bahkan, setelah invasi tersebut, Iran dan Amerika justru sering berada pada posisi yang berseberangan, termasuk dalam dinamika keamanan di Irak pasca-invasi.
Tuduhan bahwa Iran membantu Amerika dalam perang melawan Irak sering kali lahir dari cara pandang yang terlalu menyederhanakan realitas geopolitik. Dalam politik internasional, tidak jarang dua negara memiliki kepentingan yang tampak sejalan pada momen tertentu tanpa adanya koordinasi atau kerja sama langsung. Kesamaan hasil tidak selalu berarti adanya kolaborasi.
Dengan demikian, narasi bahwa Iran membantu Amerika dalam perang melawan Irak lebih merupakan konstruksi retoris ketimbang kesimpulan yang berbasis bukti historis. Hubungan Iran–Amerika Serikat, khususnya dalam konteks Irak, lebih tepat dipahami sebagai hubungan yang kompleks, penuh rivalitas, dan diwarnai oleh kepentingan yang saling bersinggungan, bukan hubungan kerja sama yang terstruktur.
Jika melihat ke belakang pada perang Iran–Irak (1980–1988), fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Dalam konflik panjang tersebut, Iran dan Irak berada pada posisi saling berhadapan secara langsung.
Pada saat yang sama, Amerika Serikat tidak berpihak kepada Iran, melainkan memberikan dukungan kepada Irak, baik dalam bentuk intelijen, dukungan politik, maupun bantuan tidak langsung lainnya. Dalam konteks ini, sulit untuk menyatakan bahwa Iran membantu Amerika, karena yang terjadi justru Amerika berada pada posisi yang menguntungkan Irak, lawan utama Iran.
Jadi sebenarnya Atha Abu Rusytah kurang cermat memahami realitas hubungan antara Iran dan Amerika. Perang Iran melawan Amerika-Israel sejak 28 Februari lalu menjadi bukti terbaru bahwa kedua negara tersebut sungguh-sunguh bermusuhan.



