AswajaNews – Kuliner khas Malang tetap memiliki tempat kuat di tengah perubahan selera masyarakat dan menjamurnya makanan modern.
Daya tahannya terlihat dari sejumlah hidangan yang terus disebut dalam kanal resmi pemerintah dan promosi wisata daerah, mulai dari makanan berkuah, olahan mi, hingga camilan khas yang telah lama melekat dengan identitas Malang.
Pemerintah Kota Malang, misalnya, masih menempatkan bakso, rawon, dan cwie mie dalam narasi kuliner khas kota ini.
Salah satu yang paling kuat tentu Bakso Malang. Dalam publikasi resmi Pemkot Malang, bakso disebut telah menjadi ikon kuliner khas Kota Malang yang dikenal luas. Posisi ini menunjukkan bahwa bakso bukan sekadar makanan populer, tetapi sudah menjadi bagian dari citra kota yang terus dicari warga maupun wisatawan.
Selain bakso, cwie mie juga tetap bertahan sebagai sajian khas yang punya penggemar sendiri. Pemerintah Kota Malang menyebut cwie mie sebagai menu mi khas Kota Malang, menandakan bahwa hidangan ini masih dianggap representatif untuk mengenalkan karakter kuliner lokal.
Di sisi lain, orem-orem juga masih eksis hingga kini. Dalam artikel resmi Pemkot Malang, orem-orem disebut sebagai salah satu makanan khas Kota Malang berbahan dasar tempe yang disajikan dengan kuah santan kuning, lontong atau ketupat, serta kecambah.
Daya tahan kuliner Malang juga tampak pada sektor oleh-oleh. Kampung Sanan Tempe di Kota Malang, menurut portal Jadesta Kemenparekraf, dikenal sebagai sentra produksi tempe dan keripik tempe terbesar di Indonesia.
Di tempat ini, keripik tempe hadir bukan hanya dalam bentuk klasik, tetapi juga dalam variasi inovatif seperti keripik tempe sagu dan aneka rasa. Ini menunjukkan bahwa kuliner khas Malang tetap bertahan justru karena mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar bahan lokalnya.***





