AswajaNews – Di tengah perubahan selera pasar dan maraknya makanan kekinian, sejumlah kuliner khas Blitar tetap bertahan dan masih dicari masyarakat. Kebertahanan ini terlihat dari makanan tradisional yang terus dipromosikan dalam kanal resmi pemerintah, desa wisata, hingga ekosistem pariwisata daerah. Artinya, kuliner khas Blitar tidak hanya hidup sebagai nostalgia, tetapi masih memiliki tempat dalam konsumsi harian, wisata, dan usaha lokal.
Salah satu yang paling lekat dengan Blitar adalah nasi pecel. Dalam paket wisata Desa Sawentar yang dimuat Jadesta Kementerian Pariwisata, nasi pecel khas Blitar disebut sebagai makanan dengan resep turun-temurun dan legendaris, dengan sambal pecel berbumbu rempah yang menjadi ciri rasanya. Di Kota Blitar, keberadaan Nasi Pecel Mbok Bari juga menunjukkan kuatnya tradisi kuliner ini. Portal kuliner resmi pemerintah kota menyebut warung tersebut sudah ada sejak 1964 dan dikenal sebagai salah satu tujuan makan yang melekat dengan identitas kota.
Selain itu, ada pula es pleret, minuman tradisional yang masih disebut sebagai minuman khas Blitar dalam laman resmi Kecamatan Wlingi. Minuman berbahan tepung beras yang disajikan dengan sirup dan santan ini menunjukkan bahwa kuliner khas tidak selalu berupa makanan berat. Kehadirannya menandakan bahwa jajanan dan minuman tradisional juga masih dipertahankan sebagai bagian dari selera lokal.
Kuliner lain yang juga terus dikenal adalah wajik kletik dan nasi uceng. Dalam artikel resmi Pemerintah Kota Blitar tentang kuliner khas, keduanya termasuk makanan yang diperkenalkan sebagai identitas rasa daerah. Wajik kletik bahkan disebut cocok dijadikan oleh-oleh, yang menunjukkan nilainya bukan hanya sebagai makanan konsumsi, tetapi juga sebagai produk khas yang dibawa pulang wisatawan.
Keberadaan kuliner khas yang masih dicari ini juga sejalan dengan tumbuhnya pelaku usaha kecil di Blitar. BPS Kabupaten Blitar mencatat industri kecil dan menengah di daerah ini berkembang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, didorong inovasi dan daya saing produk lokal. Karena itu, kuliner khas Blitar dapat dipahami bukan sekadar warisan rasa, melainkan juga bagian dari penggerak ekonomi lokal yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.***





