*********
Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag
Hari ini, kita berdiri di sebuah persimpangan waktu yang syahdu. Kalender menunjukkan Jumat kedua di bulan Syawal 1447 H, yang secara bersamaan bertepatan dengan peringatan Jumat Agung (Wafat Isa Al-Masih). Pertemuan dua momentum besar ini bukanlah sekadar kebetulan astronomi, melainkan sebuah simfoni kerukunan yang memanggil kita untuk menyelami makna moderasi yang sesungguhnya.
Di saat suasana ceria Syawal yang tersisa dan kekhidmatan Jumat Agung, kita diingatkan untuk menjadi Ummatan Wasathan. Sebagaimana pesan Allah dalam Al-Baqarah ayat 143:
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنٰكُمۡ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ ..
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.”
Menjadi moderat berarti kita tidak ekstrem, namun tetap teguh pada prinsip. Kita merayakan kemenangan fitrah di bulan Syawal, namun di saat yang sama, kita memberikan ruang penghormatan setinggi-tingginya bagi tetangga dan saudara kita yang sedang menjalankan ibadah dalam keheningan Jumat Agung. Inilah wajah Islam yang lurus namun penuh kelapangan, sesuai sabda Rasulullah SAW:
أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْــفِيَّةُ السَّـمْحَةُ.
“Agama yang paling dicintai Allah adalah al-Hanifiyyah as-Samhah (agama yang lurus lagi toleran).” (HR. Ahmad).
Syawal adalah bulan menyambung rasa. Setelah sebulan penuh kita ditempa di madrasah Ramadan, kini saatnya membuktikan kesalehan sosial melalui silaturahmi. Islam memandang silaturahmi bukan sekadar tradisi mudik atau makan bersama, melainkan kunci pembuka pintu langit.
Rasulullah SAW menjanjikan keberkahan yang nyata dalam sabdanya:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dengan bersilaturahmi—baik kepada sesama muslim maupun menjaga hubungan baik dengan penganut keyakinan lain—kita sedang mempraktikkan perintah Allah dalam Surat An-Nisa ayat 1 untuk selalu bertakwa dan memelihara hubungan kekeluargaan, karena sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya.
Tantangan terbesar di Jumat kedua Syawal adalah menjaga konsistensi. Seringkali, semangat ibadah luntur seiring berakhirnya Ramadan. Namun, seorang mukmin yang bijak akan terus berupaya untuk Istiqomah, sebagaimana perintah-Nya dalam Surat Hud ayat 112:
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ ….
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar (istiqomah), sebagaimana diperintahkan kepadamu.”
Istiqomah di bulan Syawal berarti tetap menjaga shalat berjamaah di tengah hiruk-pikuk silaturahmi dan tetap menebar kedamaian di tengah keberagaman bangsa. Kita memegang teguh prinsip bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang berkelanjutan, meski kuantitasnya kecil.
Pertemuan Jumat Syawal dan Jumat Agung tahun ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa perbedaan iman bukanlah tembok, melainkan jembatan untuk saling mengenal (Lita’arafu).
Mari kita jadikan hari yang mulia ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih moderat, lebih rajin menyambung silaturahmi, dan lebih kuat dalam beristiqomah. Semoga Tuhan senantiasa menjaga negeri ini dalam naungan kedamaian dan kasih sayang yang tak putus.
Semoga Harmoni di Nusantara terus terjaga dalam keberagaman.
Wallohul A’lam.


