AswajaNews – Magetan terus menguatkan citra daerah lewat branding “Magetan Ngangeni”, kalender event, dan sport tourism. Namun di balik narasi promosi itu, kawasan lereng dan wilayah dengan curah hujan tinggi tetap menyimpan kerentanan bencana yang nyata.
Dokumen resmi JDIH Pemkab Magetan menunjukkan pada 4 Maret 2024 Bupati menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor di Wilayah Kabupaten Magetan. Beberapa bulan kemudian, pada 27 Juni 2024, juga terbit keputusan status tanggap darurat untuk banjir dan tanah longsor, termasuk pada beberapa desa atau kelurahan terdampak.
Respons itu tidak berhenti di satu keputusan. Pada 19 Agustus 2024, Pemkab kembali menerbitkan perpanjangan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Kabupaten Magetan.
Pada tanggal yang sama juga ada keputusan yang lebih spesifik untuk wilayah terdampak, yakni banjir di Kecamatan Kartoharjo dan Maospati, serta longsor di Kecamatan Plaosan. Rangkaian keputusan ini memperlihatkan bahwa ancaman bencana pada 2024 bukan kejadian sesaat, melainkan situasi yang memerlukan respons berulang dari pemerintah daerah.
Kalau dikomparasikan dengan data terbaru, tekanan bencana itu masih terasa sampai 2026. Berita resmi Pemkab Magetan pada 4 Maret 2026 melaporkan banjir luapan terpantau di enam lokasi, antara lain di Jalan Kemasan, Jalan Magetan–Gorang Gareng, Perempatan Ngariboyo, dan Jalan Diponegoro di Kelurahan Selosari.
Pada waktu yang hampir sama, BPBD Magetan juga melaporkan kejadian tanah longsor di Jalan Sarangan–Tawangmangu pada 28 Februari 2026, yang sempat menutup sekitar 50 persen badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas.
Data terbaru lain juga menunjukkan bahwa mitigasi masih menjadi kebutuhan nyata. Pada akhir 2025, BPBD Magetan melakukan pembersihan dan pengecekan 11 unit EWS yang tersebar di wilayah rawan seperti Poncol, Plaosan, dan Kartoharjo. Alat itu mencakup sistem peringatan dini untuk banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Langkah ini menegaskan bahwa kerawanan bencana di Magetan bukan hanya dibaca dari kejadian, tetapi juga dari kebutuhan menjaga kesiapsiagaan di titik-titik rawan.***





