AswajaNews – Pacitan memang terus menguatkan citra sebagai daerah wisata, tetapi pada saat yang sama masih bergulat dengan kerentanan bencana hidrometeorologi.
Dokumen resmi Pemkab menunjukkan Bupati Pacitan menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi pada 19 Januari 2024 dan menetapkannya berlaku sampai 28 Maret 2024.
Keputusan itu menegaskan bahwa ancaman banjir, longsor, dan cuaca ekstrem bukan persoalan sesaat, melainkan situasi darurat yang benar-benar memengaruhi kehidupan masyarakat.
Pada tahun yang sama, Pemkab juga menerbitkan keputusan penggunaan belanja tidak terduga untuk penanganan darurat infrastruktur akibat banjir dan tanah longsor.
Dalam dokumen itu disebut curah hujan tinggi telah menyebabkan jalan dan jembatan rusak, sehingga perlu penanganan cepat. Lampiran keputusan juga memperlihatkan penanganan darurat menyasar banyak titik, mulai ruas jalan hingga jembatan seperti Ponggok dan Kalimojo.
Kalau dibandingkan dengan data terbaru, tekanan bencana itu ternyata belum mereda. Pada 23 Februari 2025, Bupati Pacitan kembali menetapkan perpanjangan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi hingga 30 April 2025.
Dalam keputusan itu disebutkan banyaknya kejadian bencana hidrometeorologi dan kondisi cuaca yang masih menjadi pertimbangan utama. Artinya, setelah status tanggap darurat pada 2024, Pacitan masih harus memperpanjang kewaspadaan resminya pada 2025.
Kondisi itu masih terasa sampai 2026. Berita resmi Pemkab Pacitan pada 4 Maret 2026 menampilkan Bupati meninjau dua jembatan rusak di Desa Sumberejo, Kecamatan Sudimoro, yakni Jembatan Kaligoro dan Jembatan Ponggok.
Keduanya dilaporkan rusak parah akibat banjir besar Sungai Bungur pada pertengahan Februari, bahkan salah satunya putus total dan membuat akses warga harus memutar lebih jauh.
Rangkaian data ini menunjukkan satu hal penting: Pacitan tidak hanya sedang menjual wisata, tetapi juga terus berhadapan dengan risiko bencana yang memukul infrastruktur dasar dan mobilitas warga.
Karena itu, cerita tentang Pacitan hari ini bukan cuma tentang pantai, branding, dan pertumbuhan kunjungan, melainkan juga tentang bagaimana daerah ini terus diuji oleh banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur yang berulang.***





