AswajaNews – Candi Brongkah, yang secara administratif terletak di Dusun Brongkah, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, merupakan salah satu bukti warisan sejarah purbakala di wilayah selatan Jawa Timur. Situs ini dikenal sebagai reruntuhan candi yang saat ini sebagian besar berada di bawah permukaan tanah, dan menjadi salah satu peninggalan arkeologis penting yang membentuk gambaran kehidupan masa lalu di kawasan ini.
Candi Brongkah pertama kali ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1994 ketika seorang warga setempat menggali tanah untuk keperluan sumur rumahnya dan menemukan struktur batu bata besar yang tidak biasa. Batu bata tersebut kemudian diketahui merupakan bagian dari struktur bangunan candi yang cukup besar, dan setelah dilaporkan, penemuan ini menarik perhatian otoritas setempat serta tim peneliti.
Bangunan candi kini hanya menyisakan bagian kaki candi yang berada di kedalaman sekitar 3 meter di bawah permukaan tanah, dengan ukuran dasar diperkirakan sekitar 6 × 6 meter dan dibuat dari batu bata merah khas konstruksi candi klasik di Jawa. Struktur ini hingga kini masih dirawat dan dilestarikan sebagai salah satu aset cagar budaya di Kabupaten Trenggalek.
Penelitian awal dan penggalian di sekitar lokasi telah menemukan beberapa artefak penting yang menguatkan dugaan bahwa Candi Brongkah merupakan situs kuno berhubungan dengan tradisi agama Hindu. Salah satu temuan yang paling menarik adalah arca Nandi, sosok lembu yang dalam keyakinan Hindu merupakan kendaraan (tunggangan) dari Dewa Siwa. Temuan ini kemudian diamankan dan sebagian dibawa ke museum untuk dipelajari lebih lanjut oleh para ahli arkeologi.
Dalam penelitian lanjutan, para ahli juga mendapati pola batu bata serta struktur temuan yang memiliki kemiripan dengan teknik pembangunan candi pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke‑13 hingga ke‑15 Masehi). Meskipun belum ada penetapan kronologi pasti melalui penanggalan ilmiah, temuan tersebut menjadi indikasi kuat bahwa Candi Brongkah merupakan produk peradaban Hindu kuno yang pernah berkembang di selatan Jawa Timur.
Candi Brongkah berada di kaki Gunung Rajekwesi, dan lebih jauh lagi dekat dengan aliran Sungai Ngasinan, suatu jalur air penting yang diyakini memainkan peran penting dalam peradaban kuno di wilayah selatan Jawa. Hubungan antara situs ini dengan sungai menunjukkan kemungkinan bahwa area tersebut merupakan pusat kegiatan ritual, perumahan, atau fungsi lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada era klasik Nusantara.
Uniknya, situs ini sering mengalami genangan air pada musim hujan, karena posisi strukturalnya di dalam cekungan tanah dan berdekatan dengan sungai. Kondisi ini membuat Candi Brongkah tampak seolah berada dalam kolam air, terutama saat curah hujan tinggi.
Sebagai salah satu peninggalan kuno yang dibuktikan keberadaannya sejak awal penemuan, Candi Brongkah kini termasuk dalam data cagar budaya Kabupaten Trenggalek dan menjadi salah satu objek bersejarah yang dilindungi. Keberadaan situs ini menjadi titik awal bagi pengembangan studi arkeologi serta pendidikan sejarah di daerah tersebut.
Walaupun kunjungan wisata budaya ke tempat ini masih relatif sepi dan kondisinya sederhana, situs ini terus dipelihara oleh pihak terkait untuk menjaga kelestarian struktur yang ada sekaligus memberi ruang bagi peneliti dan masyarakat untuk belajar tentang sejarah lokal.
Candi Brongkah bukan hanya sekadar tumpukan batu bata tua — situs ini merupakan saksi sejarah yang membisu tentang jejak peradaban Nusantara di luar pusat kerajaan besar yang sering tertulis, seperti Majapahit atau Mataram. Bukti arkeologis yang ditemukan di sana membuka wawasan bahwa kawasan selatan Jawa Timur juga pernah mengalami kemajuan budaya dan teknologi konstruksi candi yang signifikan.
Dengan penelitian lanjutan dari pakar arkeologi serta dukungan pelestarian yang berkelanjutan, Candi Brongkah diharapkan dapat semakin dipahami secara ilmiah dan menjadi bagian penting dari narasi sejarah besar peradaban di Indonesia.***





