AswajaNews – Terletak di perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi bukan sekadar kota transit. Nama “Ngawi” berasal dari kata “Awi” yang berarti bambu, merujuk pada banyaknya pohon bambu yang tumbuh di sepanjang pinggiran bengawan.
Namun, di balik ketenangan kotanya, Ngawi menyimpan sejarah yang membentang dari jutaan tahun lalu hingga masa perjuangan melawan penjajah. Inilah 3 tonggak sejarah yang membentuk wajah Ngawi hari ini.
Sejarah Ngawi menempatkan Indonesia dalam peta arkeologi dunia. Di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, peneliti Belanda Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus (Manusia Jawa) pada tahun 1891.
Penemuan di Situs Trinil ini menjadi bukti penting evolusi manusia dan menjadikan Ngawi sebagai salah satu pusat penelitian prasejarah paling penting di dunia.
Memasuki era kolonial, Ngawi memiliki peran strategis sebagai jalur logistik dan pertahanan. Benteng Van Den Bosch, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem, dibangun pada abad ke-19.
Benteng ini dibangun untuk membendung serangan pengikut Pangeran Diponegoro. Terletak di pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun, benteng ini merupakan mahakarya arsitektur yang menunjukkan betapa pentingnya posisi Ngawi dalam peta militer Belanda saat itu.
Jejak Ngawi juga ditemukan dalam sejarah klasik Nusantara. Berdasarkan Prasasti Ketandan (1358 M), Ngawi sudah ditetapkan sebagai wilayah Naditira Pradesa atau daerah penyeberangan sungai pada masa Hayam Wuruk dari Majapahit.
Hal ini menunjukkan bahwa sejak dulu, Ngawi adalah pusat perdagangan dan transportasi air yang sangat sibuk.***





