AswajaNews – Banyak yang mengenal Nganjuk hanya sebagai “Kota Angin”, namun sedikit yang menyadari bahwa nama kabupaten ini menyimpan rahasia kemenangan besar di masa lalu. Berasal dari kata “Anjuk Ladang”, Nganjuk secara harfiah berarti “Tanah Kemenangan”.
Mengapa disebut tanah kemenangan? Mari kita telusuri lorong waktu menuju abad ke-10, saat sebuah prasasti menjadi saksi bisu lahirnya kejayaan di tanah ini.
Prasasti Anjuk Ladang: Akta Kelahiran Nganjuk
Sejarah Nganjuk tidak bisa dilepaskan dari Prasasti Anjuk Ladang yang bertarikh 937 Masehi. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa atau yang lebih dikenal sebagai Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur.
Prasasti ini adalah “hadiah” dari Raja kepada rakyat Anjuk Ladang atas kesetiaan dan keberanian mereka membantu raja menghalau serangan tentara Melayu (Sriwijaya).
Candi Lor: Monumen Kemenangan yang Terlupakan
Tak jauh dari lokasi penemuan prasasti, berdirilah Candi Lor. Struktur bata merah ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah Jayastambha atau tugu kemenangan. Candi ini dibangun untuk menghormati jasa para pahlawan lokal yang gugur dalam pertempuran membela kedaulatan kerajaan.
Mengapa Disebut “Kota Angin”?
Secara geografis, Nganjuk diapit oleh dua gunung besar, yaitu Gunung Wilis di selatan dan Pegunungan Kendeng di utara. Letak unik ini menciptakan koridor alami yang membuat hembusan angin di Nganjuk terasa lebih kencang dibandingkan daerah sekitarnya, terutama saat musim kemarau. Itulah alasan mengapa julukan “Kota Angin” begitu melekat hingga kini.
Dari Anjuk Ladang Menjadi Nganjuk
Seiring berjalannya waktu, pengucapan “Anjuk” mengalami pergeseran fonetik menjadi “Nganjuk”. Transformasi nama ini tetap membawa semangat yang sama: sebuah tempat di mana keberanian dan loyalitas membuahkan kejayaan.***





