AswajaNews – Di balik rimbunnya pepohonan di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, tersimpan sebuah situs yang bukan sekadar tumpukan batu atau petilasan biasa. Petilasan Sunan Kumbul adalah saksi bisu kesetiaan para prajurit yang membawa misi besar dari Keraton Surakarta menuju tanah Reog.
Sejarah mencatat bahwa situs ini berkaitan erat dengan tokoh-tokoh pelarian dari Surakarta. Keberadaan mereka di Sawoo bukanlah tanpa alasan.
Di sinilah nilai-nilai loyalitas diuji, yang kemudian melahirkan tradisi agung yang masih lestari hingga saat ini: Dora Manggala.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol filosofis tentang bagaimana seorang prajurit menjaga amanah pemimpinnya hingga titik darah penghabisan.
Bagi masyarakat Ponorogo, Petilasan Sunan Kumbul memiliki kedudukan yang sangat sakral. Lokasi ini secara turun-temurun menjadi titik awal keberangkatan kirab pusaka menuju pusat kota Ponorogo.
Setiap tahunnya, perjalanan dari Sawoo menuju pusat kota ini melambangkan:
- Spirit Kesetiaan: Mengenang perjalanan para leluhur dalam menjaga pusaka daerah.
- Identitas Budaya: Memperkuat akar sejarah Ponorogo yang terhubung dengan trah Mataram.
- Penghormatan Leluhur: Menjaga marwah para tokoh pelarian yang telah berjasa membangun fondasi budaya di Sawoo.
Mengunjungi Petilasan Sunan Kumbul memberikan pengalaman batin yang berbeda. Suasana yang tenang dan sarat akan nuansa mistis-historis membuat siapa saja yang datang akan merasakan kembali atmosfer perjuangan masa lalu.
Bagi para pemburu konten sejarah atau peziarah, situs ini adalah destinasi wajib untuk memahami mengapa Ponorogo begitu kental dengan nuansa ksatria dan tradisi yang tak lekang oleh waktu.***





