Menelusuri Sejarah Pacitan, Jantung Prasejarah Nusantara dan Legenda Buah ‘Pace’

AswajaNews – Terletak di ujung barat daya Jawa Timur, Kabupaten Pacitan bukan hanya sekadar destinasi wisata pantai yang memukau. Wilayah ini adalah perpustakaan alam raksasa yang menyimpan catatan sejarah manusia sejak zaman prasejarah hingga masa perjuangan kemerdekaan.

Secara arkeologis, Pacitan mendunia berkat temuan G.H.R. von Koenigswald pada tahun 1935. Ia menemukan alat-alat batu dari zaman Palaeolitikum (zaman batu tua) di sepanjang lembah Sungai Baksoka.

Temuan ini dikenal di dunia internasional sebagai Budaya Pacitanian. Penemuan kerangka manusia purba di Song Terus dan Goa Tabuhan membuktikan bahwa Pacitan telah menjadi pusat pemukiman manusia purba sejak puluhan ribu tahun yang lalu, menjadikannya salah satu situs prasejarah terpenting di Asia.

Terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama “Pacitan”, namun yang paling populer berkaitan dengan kisah pelarian Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) saat perang melawan Belanda.

Konon, dalam kondisi kelelahan, sang Pangeran diberi buah Pace (Mengkudu) oleh seorang abdi setianya untuk memulihkan stamina. Karena khasiat buah tersebut membuat tubuhnya terasa segar kembali (pacetan), wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Pacitan.

Secara etimologi, ada juga yang menyebut berasal dari kata “Pace-itan” yang merujuk pada ketenangan atau ketentraman.

Pemerintah Kabupaten Pacitan menetapkan tanggal 19 Februari sebagai Hari Jadi. Hal ini didasarkan pada peristiwa sejarah saat Raden Tumenggung Notopuro secara resmi diangkat sebagai Bupati Pacitan pertama pada tahun 1745.

Momen ini menandai berdirinya pemerintahan administratif yang berdaulat di bawah naungan Kesultanan Mataram.

“Pacitan memiliki nilai historis yang unik; ia adalah tempat lahirnya para pemimpin besar dan pernah menjadi basis gerilya Jenderal Sudirman saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.”

Dalam sejarah modern, Pacitan memiliki kedudukan terhormat. Desa Sobo, Kecamatan Pakuniran, pernah menjadi markas besar Jenderal Sudirman selama tujuh bulan saat memimpin perang gerilya tahun 1949.

Monumen Jenderal Sudirman yang berdiri megah kini menjadi pengingat bahwa di balik indahnya goa-goa Pacitan, tersimpan semangat perlawanan yang tak pernah padam.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D