Oleh: K. Imron Ahmadi, S.Ag (Sekretaris PC LP. Ma’arif NU Ponorogo)
*********
Di penghujung bulan Ramadhan, umat Islam bersiap menyambut hari kemenangan, yaitu Idul Fitri. Hari raya ini bukan hanya sekadar perayaan setelah tuntas menunaikan puasa sebagai bentuk Hablum minalloh, tetapi juga momentum Hablum minannas dengan memperkuat persaudaraan dan memperbaiki hubungan sosial melalui silaturahmi dengan harapan kembali Fitroh.
Dalam masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, terdapat tradisi saling berkunjung setelah Ramadhan berakhir. Keluarga, tetangga, dan sahabat saling mendatangi untuk berjabat tangan, memohon maaf, dan mempererat hubungan.
Tradisi ini sering dikenal dengan istilah halal bihalal, yaitu upaya saling menghalalkan kesalahan dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang. Walaupun istilah ini berkembang dalam budaya Nusantara, nilai yang dikandungnya sangat sejalan dengan ajaran Islam tentang persaudaraan dan perdamaian.
A. Makna Silaturahmi
Silaturahmi berasal dari kata “silah” yang berarti menyambung dan “rahim” yang berarti hubungan kasih sayang atau kekerabatan. Secara istilah, silaturahmi berarti menjaga, mempererat, dan memperbaiki hubungan kasih sayang antar sesama manusia.
Silaturahmi tidak hanya terbatas pada keluarga, tetapi juga mencakup hubungan sosial yang lebih luas seperti tetangga, sahabat, dan masyarakat. Silaturahmi memiliki dampak yang sangat besar, antara lain memperkuat persaudaraan, menumbuhkan empati, serta menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis.
Perintah menjaga silaturahmi disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah An-Nisa ayat 1:
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّكُمُ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالًا كَثِيۡرًا وَّنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِىۡ تَسَآءَلُوۡنَ بِهٖ وَالۡاَرۡحَامَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيۡبًا
Dalam ayat ini Alloh memerintahkan manusia untuk menjaga hubungan kekerabatan.
Allah juga menegaskan pentingnya menyambung hubungan kekeluargaan dalam Surah Muhammad ayat 22–23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ،اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ.
Dari ayat ini Alloh memperingatkan manusia agar tidak memutus hubungan silaturahmi.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya membawa kebaikan sosial, tetapi juga keberkahan dalam kehidupan seseorang.
B. Konsiliasi Sosial
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat dan konflik tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, Islam mengajarkan pentingnya konsiliasi sosial, yaitu upaya memperbaiki hubungan yang rusak dan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ
yang menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan diperintahkan untuk mendamaikan saudara yang berselisih.
Selain itu, dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:
فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Allah memerintahkan agar orang beriman mendamaikan dua kelompok yang bertikai.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa mendamaikan orang yang berselisih merupakan amal yang sangat mulia, bahkan nilainya lebih utama dibandingkan sekadar ibadah sunnah tertentu.
Momentum Idul Fitri menjadi waktu yang sangat tepat untuk melakukan konsiliasi sosial, karena pada saat itu umat Islam diajak untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.
C. Akulturasi Budaya
Tradisi silaturahmi, selain konsiliasi sosial, Islam juga mendorong akulturasi budaya, yaitu proses menyelaraskan nilai-nilai budaya dengan ajaran Islam agar tercipta harmoni dalam kehidupan masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ
bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya merupakan bagian dari kehendak Allah yang harus disikapi dengan sikap saling menghargai.
Tradisi silaturahmi dalam budaya masyarakat Nusantara antara lain:
a. Halal bihalal setelah Idul Fitri.
b. Tradisi mudik untuk bertemu keluarga.
c. Kunjungan kepada orang tua dan tokoh masyarakat.
d. Open house atau rumah terbuka pada hari raya.
Tradisi-tradisi ini menjadi sarana memperkuat hubungan sosial dan budaya dalam masyarakat.
D. Filosofi Lebaran, Leburan, Luberan, dan Laburan
Dalam tradisi masyarakat Jawa, silaturahmi saat hari raya Idul Fitri dikenal dengan filosofi 4L, yaitu: Lebaran, Leburan, Luberan, dan Laburan.
- Pertama, Lebaran.
yaitu perayaan hari raya Idul Fitri setelah menjalani puasa Ramadhan. Maknanya adalah kembali kepada kesucian sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dari ayat ini dijelaskan bahwa Ramadhan ditutup dengan takbir sebagai bentuk syukur. - Kedua, Leburan.
yaitu melebur dosa melalui saling memaafkan. Nilai ini selaras dengan perintah Allah dalam Surah An-Nur ayat 22:
وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Alloh menganjurkan manusia untuk memaafkan dan berlapang dada. - Ketiga, Luberan.
yang berarti berbagi rezeki kepada sesama. Hal ini tercermin dalam kewajiban zakat fitrah yang diperintahkan sebelum Idul Fitri agar semua orang dapat merasakan kebahagiaan hari raya. - Keempat, Laburan.
yang berarti penyucian atau pemutihan diri, baik secara lahir maupun batin. Nilai ini berkaitan dengan tujuan puasa Ramadhan yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Harapan akhir dari kita berpuasa agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
E. Kembali ke Fitroh
Akhir Ramadhan 1447 H ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi juga dari perubahan sikap kita dalam kehidupan sosial.
- Silaturahmi mempererat persaudaraan.
- Konsiliasi sosial memperbaiki hubungan yang rusak.
- Akulturasi budaya memperkuat harmoni dalam keberagaman.
Dengan menghidupkan nilai-nilai tersebut, maka perayaan Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga menjadi momentum membangun masyarakat yang damai, penuh kasih, dan saling menghormati. sehingga kita akan kembali ke Fitroh baik secara vertikal setelah menjalankan perintah Puasa dari sang Kholiq, dan Fitroh secara Horisontal karena kita saling memaafkan dan silaturahmi dengan sesama makhluk.
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik setelahnya.
Wallahul Muwaffiq ilaa Aqwamit Thoriq





