AswajaNews – Terletak di jalur strategis pantai utara Jawa, Kota Pasuruan telah lama menjadi gerbang ekonomi penting. Jauh sebelum hiruk pikuk industri modern, kota ini adalah salah satu bandar (pelabuhan) tersibuk yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan dunia luar.
Secara etimologi, nama Pasuruan dipercayai berasal dari kata “Pasaroean” atau “Pa-Saru-An”, yang berarti tempat orang berkumpul untuk berjaga atau berdagang.
Ada pula pendapat yang mengaitkannya dengan kata “Suru” (daun sirih). Sejak zaman Majapahit, wilayah ini sudah dikenal sebagai pelabuhan transit untuk komoditas rempah, kayu, dan hasil bumi.
Pada abad ke-17, Pasuruan menjadi wilayah yang diperebutkan karena kekayaan alam dan letak pelabuhannya. Di bawah kepemimpinan tokoh legendaris Untung Suropati, Pasuruan menjadi basis perlawanan yang tangguh terhadap VOC.
Namun, memasuki abad ke-19 di bawah pemerintah kolonial Belanda, Kota Pasuruan bertransformasi menjadi salah satu kota terkaya di Jawa Timur.
Pemerintah Kota Pasuruan menetapkan tanggal 8 Februari sebagai Hari Jadi. Hal ini merujuk pada peristiwa pengangkatan Kyai Adipati Darmoyudo I oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1686 Masehi.
Pengangkatan ini menandai dimulainya pemerintahan administratif yang lebih tertata di wilayah Pasuruan.
“Kota Pasuruan tidak hanya memiliki sejarah perdagangan, tapi juga sejarah spiritual yang kuat. Julukan ‘Kota Santri’ dan ‘Kota Meditasi’ melekat karena banyaknya ulama besar yang menetap dan menyebarkan ilmu di sini, seperti KH Abdul Hamid.”
Saat ini, Kota Pasuruan terus bersolek dengan merevitalisasi kawasan pelabuhan dan alun-alun (termasuk pemasangan payung madinah) untuk membangkitkan kembali kejayaan masa lalu dalam kemasan wisata religi dan sejarah (heritage).***





