AswajaNews – Dikenal luas sebagai tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, Bung Karno, Kota Blitar memiliki rekam jejak sejarah yang jauh lebih dalam dari sekadar julukan “Kota Proklamator”.
Kota di kaki Gunung Kelud ini menyimpan transformasi panjang dari sebuah wilayah hutan belantara hingga menjadi pusat pergerakan nasionalisme di Jawa Timur.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah dan cerita rakyat, nama “Blitar” diyakini berasal dari frasa Jawa “Beli-tar” yang berarti “kembali pulang”.
Namun, versi lain yang cukup kuat menyebutkan bahwa nama ini berasal dari kata “Balitar” (Bumi Liat Tarpa), yang merujuk pada kondisi tanah di kawasan ini yang subur namun menantang.
Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah Blitar merupakan daerah penting yang sering dikunjungi para raja untuk melakukan ritual di Candi Penataran, candi termegah di Jawa Timur yang terletak tidak jauh dari pusat kota.
Secara administratif, sejarah Kota Blitar sebagai entitas kota modern dimulai pada masa penjajahan Belanda.
1 April 1906: Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Blitar sebagai Gemeente (Kotamadya) melalui Staatsblad Nomor 150.
Pusat Perkebunan: Di bawah kendali Belanda, Blitar dikembangkan menjadi pusat logistik hasil bumi, terutama kopi dan kakao, berkat tanah vulkanisnya yang sangat kaya.
Satu titik balik sejarah yang paling heroik terjadi pada 14 Februari 1945. Di sinilah letusan perlawanan bersenjata pertama terhadap pendudukan Jepang terjadi, yang dipimpin oleh Sodanco Supriyadi melalui pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air).***





