Jejak Pelarian Paku Buwono II ke Ponorogo, Titik Balik Sejarah Mataram dan Cengkeraman VOC di Jawa

AswajaNews – Sejarah besar Nusantara sering kali ditentukan di tempat-tempat yang tenang dan jauh dari pusat kekuasaan. Salah satunya adalah Pesantren Tegalsari, Ponorogo. Di tempat inilah, sebuah peristiwa krusial terjadi pada tahun 1742 yang tidak hanya mengubah nasib Kesultanan Mataram, tetapi juga memperkuat cengkeraman kolonialisme Belanda (VOC) di tanah Jawa.

Peristiwa ini bermula dari Geger Pecinan, sebuah pemberontakan besar etnis Tionghoa melawan VOC yang meletus di Batavia pada 1740 dan meluas hingga ke Jawa Tengah. Keraton Kartasura, yang saat itu dipimpin oleh Raja Paku Buwono II, jatuh ke tangan pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (Sunan Kuning).

Dalam kondisi terdesak dan kehilangan takhtanya, Paku Buwono II terpaksa melakukan pelarian panjang ke arah timur. Tujuan utamanya adalah sebuah wilayah yang dikenal memiliki kedalaman spiritual dan kesetiaan tinggi: Ponorogo.

Perlindungan di Tegalsari dan Peran Kiai Ageng Muhammad Besari

Di Ponorogo, sang Raja mencari perlindungan dan bimbingan spiritual kepada tokoh ulama besar saat itu, Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Tegalsari. Kedatangan raja yang sedang “terbuang” ini disambut dengan tangan terbuka.

Di bawah bimbingan Kiai Ageng, Paku Buwono II menjalani masa-masa refleksi dan pemulihan kekuatan. Dukungan dari rakyat Ponorogo, termasuk para tokoh lokal dan santri, menjadi modal penting bagi sang Raja untuk menyusun strategi merebut kembali kekuasaannya. Sebagai bentuk rasa syukur, kelak Tegalsari ditetapkan sebagai Desa Perdikan (desa bebas pajak) oleh pihak kerajaan.

Kaitan Dunia: Pintu Masuk Intervensi VOC

Peristiwa pelarian ke Ponorogo ini memiliki signifikansi global dalam konteks sejarah kolonialisme. Untuk merebut kembali takhtanya dari tangan pemberontak, Paku Buwono II terpaksa menjalin aliansi yang sangat mahal dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Keterlibatan VOC dalam membantu memulihkan kekuasaan raja di Kartasura pasca-pelarian tersebut menjadi “pintu masuk” bagi Belanda untuk melakukan intervensi politik yang lebih dalam. Perjanjian-perjanjian yang ditandatangani setelah peristiwa ini memberikan hak-hak ekonomi dan wilayah yang luas kepada VOC, yang secara perlahan mengikis kedaulatan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Warisan Sejarah yang Abadi

Hingga hari ini, Pesantren Tegalsari di Ponorogo tetap berdiri sebagai saksi bisu di mana takdir sebuah kerajaan pernah dipertaruhkan. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa Ponorogo bukan sekadar kota budaya, melainkan sebuah benteng pertahanan terakhir dan pusat spiritual yang pernah menentukan arah sejarah besar bangsa Indonesia di mata dunia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D