AswajaNews – Sejarah Surabaya mencerminkan perjalanan panjang sebuah kota pelabuhan yang berkembang menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, dan perjuangan nasional. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya dikenal luas dengan julukan Kota Pahlawan, yang berakar dari peristiwa heroik 10 November 1945.
Secara etimologis, nama Surabaya diyakini berasal dari kata “sura” (ikan hiu) dan “baya” (buaya). Legenda pertarungan dua hewan tersebut menjadi simbol keberanian dan kekuatan. Tanggal 31 Mei 1293 kerap diperingati sebagai hari jadi Surabaya, berkaitan dengan kemenangan pasukan Kerajaan Majapahit di wilayah ini.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Surabaya telah berkembang sebagai bandar penting sejak era Majapahit. Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa menjadikannya simpul perdagangan antarwilayah Nusantara.
Surabaya pada Masa Kolonial
Memasuki abad ke-18 dan ke-19, Surabaya berkembang pesat di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Kota ini menjadi pusat perdagangan hasil bumi dan industri gula di Jawa Timur.
Keberadaan Pelabuhan Tanjung Perak yang mulai dikembangkan pada awal abad ke-20 semakin memperkuat posisi Surabaya sebagai pelabuhan utama di Indonesia bagian timur. Infrastruktur modern seperti jalur kereta api dan kawasan niaga turut mendorong pertumbuhan ekonomi kota.
Wilayah seperti Jembatan Merah menjadi saksi aktivitas perdagangan sekaligus dinamika sosial masyarakat multietnis yang terdiri dari pribumi, Tionghoa, Arab, dan Eropa.
Pertempuran 10 November 1945
Puncak peran historis Surabaya terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada 10 November 1945, pecah pertempuran besar antara arek-arek Surabaya melawan pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris.
Pertempuran ini dipicu oleh tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby dan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata. Tokoh-tokoh pejuang seperti Bung Tomo membakar semangat perlawanan melalui pidato radio yang legendaris.
Peristiwa heroik tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan, yang diperingati setiap 10 November di Indonesia. Monumen Tugu Pahlawan didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Surabaya di Era Modern
Kini, Surabaya tumbuh sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Selain menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, kota ini juga berkembang sebagai pusat pendidikan, industri, dan jasa di kawasan Indonesia timur.
Pelabuhan, kawasan industri, serta pembangunan infrastruktur modern memperkuat peran Surabaya sebagai gerbang ekonomi Jawa Timur. Namun di balik modernitasnya, jejak sejarah sebagai kota pelabuhan dan kota perjuangan tetap menjadi identitas yang melekat kuat.
Sejarah panjang Surabaya menunjukkan transformasi dari bandar niaga era Majapahit, kota kolonial, hingga simbol perlawanan bangsa. Warisan inilah yang menjadikan Surabaya tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga memiliki nilai historis yang besar dalam perjalanan Indonesia.***





