Bagian II (Lanjutan dari Tulisan I PERBEDAAN ANTARA KHOMEINI DAN KHAMENEI).
Oleh: Saiful Huda Ems.
**********
Sebagaimana yang saya jelaskan di tulisan saya yang pertama, Perbedaan Antara Khomeini dan Khamenei, berikut akan saya jelaskan lebih banyak lagi soal perbedaan keduanya yang ternyata kemudian saling melengkapi dan berhasil menjadikan Iran sebagai negara maju dan memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam kancah politik, ekonomi dan militer di dunia.
Ruhullah Khomeini merupakan Pendiri Republik Islam Iran, sedangkan Ali Khamenei merupakan penerus sistem yang digagas oleh Ruhullah Khomeini (Imam Khomeini).
Gaya kepemimpinan Ruhullah Khomeini sangat revolusioner, sedangkan Ali Khamenei lebih nampak birokratis dan menjaga sistem. Namun kedua-duanya mau diakui atau tidak sangat kharismatik dan menginspirasi dunia, wabil khusus orang-orang Islam.
Ruhullah Khomeini merupakan penggagas utama negara ulama, sedangkan Ali Khamenei lebih condong berperan sebagai penjaga dan penguat sistem yang dipelopori Ruhullah Khomeini. Jika dianalogikan secara sederhana, Ruhullah Khomeini itu merupakan “founding father” Republik Islam Iran. Sedangkan Ali Khamenei merupakan pemimpin yang mengelola dan mempertahankan negara itu setelah revolusi.
Ada beberapa lagi perbedaan pemikiran politik dan strategi antara Ruhullah Khomeini dan Ali Khamenei, di antaranya dalam beberapa isu penting, seperti Demokrasi, Barat, dan Strategi Geopolitik.
Pertama, Pandangan tentang Demokrasi Ruhullah Khomeini. Beliau menggunakan istilah “Republik Islam” untuk menggabungkan sistem Republik (Pemilu) dengan Pemerintahan Ulama. Pada awal revolusi, beliau sering berbicara tentang partisipasi rakyat melalui pemilu untuk legitimasi negara. Namun beliau juga tetap menegaskan bahwa kedaulatan tertinggi berada pada hukum Islam.
Sedangkan Ali Khamenei cenderung tetap mempertahankan sistem pemilu di Iran (Presiden, Parlemen), tetapi seleksi kandidat sangat dikontrol oleh Dewan Garda Konstitusi. Maka dalam praktiknya, sistem menjadi lebih terkontrol oleh elit religius dan keamanan.
Jika disederhanakan perbedaan pandangan antara Ruhullah Khomeini dengan Ali Khamenei itu diantaranya adalah,
Ruhullah Khomeini menggunakan demokrasi sebagai alat revolusi dan legitimasi, sedangkan Ali Khamenei menjalankannya sebagai sistem yang lebih terkelola dan dibatasi.
Kemudian soal sikap kedua pemimpin Iran tersebut terhadap Barat (baca: AS dan Eropa)
Ruhullah Khomeini merupakan pemimpin yang sangat anti-Amerika setelah Iranian Revolution. Beliau menyebut Amerika sebagai “Great Satan” atau Setan Besar, karena Amerika dianggap oleh Ruhullah Khomeini selalu mendominasi dan mengeksploitasi negara-negara lain, dan menyebarkan imperalisme Barat, serta selalu mendukung Rezim Mohamad Reza Pahlevi yang berhasil digulingkannya.
Sedangkan Ali Khamenei tetap sangat kritis terhadap Amerika, tetapi lebih strategis dan pragmatis dalam diplomasi. Contohnya Iran tetap bernegosiasi dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action meskipun ia skeptis terhadap Barat dan akhirnya Ali Khamenei sendiri juga dibunuh oleh kekuatan Barat, dalam ini Amerika Serikat yang bersekutu dengan Zionis Israel.
Jadi Ruhullah Khomeini terlihat lebih revolusioner dan konfrontatif, sedangkan Ali Khamenei sebenarnya nampak lebih strategis tetapi tetap ideologis.
Ruhullah Khomeini berkali-kali secara terbuka menyerukan digalakkannya Revolusi Islam ke negara-negara Muslim yang lain, khususnya di Timur Tengah. Sedangkan Ali Khamenei lebih fokus untuk melanjutkan gagasan tersebut tetapi melalui jaringan geopolitik dan militer seperti: Islamic Revolutionary Guard Corps, Hezbollah dll.
Ruhullah Khomeini berpikir dan bertindaknya lebih ideologis dan retoris, sedangkan Ali Khamenei: lebih sistematis dan mengerti benar geopolitik.
Terhadap Fokus Kepemimpinan, Ruhullah Khomeini fokus utamanya mendirikan negara Islam baru, olehnya banyak kebijakan masih dalam tahap eksperimen setelah revolusi.
Sedangkan Ali Khamenei fokus utamanya mempertahankan stabilitas dan kekuatan regional Iran, serta mengembangkan pengaruh Iran di Irak, Suriah, Lebanon dan Yaman.
Jadi sekali lagi, karakter Ruhullah Khomeini itu Revolusioner, sedangkan Ali Khamemei lebih ke arah strategis. Ruhullah Khomeini lebih lihai membangun sistem, sedangkan Ali Khamenei lebih lihai dalam menjaga dan memperkuat sistem.
Ruhullah Khomeini lebih konfrontatif terhadap Barat, sedangkan Ali Khamenei sebenarnya juga konfrontatif terhadap Barat, tetapi pragmatis dalam artian positif, bukan oportunis.
Ruhullah Khomeini lebih gencar untuk menggerakkan dan melebarkan pengaruh revolusi, namun Ali Khamenei lebih menekankan penguatan ideologis dan Geopolitik.
Singkatnya, Ruhullah Khomeini itu ideolog revolusi, sedangkan Ali Khamenei itu operator negara revolusioner.
Kalau sudah demikian, apakah Khamenei sebenarnya “lebih keras” dari Khomeini atau sebaliknya dalam praktik politik Iran? Begini menurut pandangan saya, bahwa kalau dilihat dalam konteks Retorika dan mobilisasi massa untuk melakukan Revolusi, Ruhullah Khomeini lebih Radikal daripada Ali Khamenei.
Dan itu terbukti saat menumbangkan Shah Muhammad Reza Pahlevi, Ruhullah Khomeini sangat revolusioner sekali, meskipun tetap melarang tindakan-tindakan yang melampaui batas, seperti larangan untuk melakukan kekerasan. Contohnya saat menyerukan digulingkannya Monarki Iran pada Revolusi Islam Iran 1979 itu, Ruhullah Khomeini melarang keras rakyat Iran untuk membalas serangan brutal dari para loyalis Shah Reza pahlevi dengan kekerasan.
Ruhullah Khomeini tiada henti-hentinya menyerukan umat Islam untuk menentang pengaruh Amerika dan Barat. Jadi retorikanya sangat ideologis dan penuh semangat revolusi.
Namun sebaliknya dalam struktur kekuasaan, Ali Khamenei lebih ketat menjaganya. Ketika Ali Khamenei berkuasa sejak 1989, sistem negara menjadi lebih terinstitusionalisasi dan terkontrol. Contohnya beberapa hal yang dikontrol dan diperkuat oleh Ali Khamenei itu antara lain, adalah peran besar Islamic Revolutionary Guard Corps dalam politik dan ekonomi.
Lalu pengawasan ketat terhadap pemilu oleh Guardian Council, atau penjaga ideologi Republik Islam Iran. Kalau di Indonesia gitu tugas dan fungsinya agak mirip Mahkamah Konstitusi, kemudian pembatasan terhadap oposisi politik dll., yang membahayakan atabilitas politik dan keamanan dalam negeri Iran, yang tidak pernah henti dari penyusupan/infiltrasi agent-agent CIA dan Mossad untuk menjatuhkan Pemerintahan Iran yang dipimpin ulama-ulamanya yang sangat kharismatik, dicintai rakyat dan sangat kritis terhadap Amerika dan Israel.
Inilah yang kemudian banyak dari ilmuwan politik yang menyimpulkan, bahwa Ruhullah Khomeini menciptakan revolusi, sedangkan Ali Khamenei menciptakan sistem kekuasaan yang membuat revolusi itu bertahan. Luar biasa sinergitas kedua pemimpin besar dunia ini ya? Wallahu a’lamu bisshawab…(SHE).
Minggu, 8 Maret 2026.
Saiful Huda Ems (SHE).



