AswajaNews – Peringatan Harlah ke-2 Media Santri Ponorogo (MSP) ditandai dengan rangkaian acara malam puncak dalam kegiatan Festival Santri Ponorogo 2026 yang menjadi ajang apresiasi karya santri sekaligus ruang silaturahmi antar media pondok pesantren di Ponorogo.
Acara diawali dengan pembukaan pameran karya peserta lomba, yang menampilkan hasil karya santri dari lomba video dan fotografi. Kegiatan juga dirangkai dengan khataman Al-Qur’an, mauidhoh hasanah, serta buka puasa bersama, kemudian dilanjutkan dengan shalat Maghrib, Isya, dan Tarawih berjamaah.
Memasuki acara inti, panitia menayangkan karya para peserta lomba sekaligus mengumumkan pemenang dan menyerahkan hadiah kepada para juara. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kopdar media santri se-Ponorogo yang menjadi forum diskusi dan penguatan jaringan antar media pondok pesantren.
Dodik Nur Cahyo, Founder Santri Desain Comunity menjadi narasumber utama yang menyampaikan pentingnya penguatan media pesantren di era digital serta langkah-langkah yang dapat dilakukan santri untuk membangun media yang produktif dan berdampak.

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh yang sekaligus turut memberikan dukungan terhadap perkembangan media pesantren.
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Bhatoro Katong (Yapertinuka) Ponorogo, Syamsul Ma’arif, mengapresiasi kehadiran Media Santri Ponorogo yang dinilai mampu menjadi “pasukan udara” bagi pondok pesantren dalam menyebarkan informasi positif.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan media bukan pada siapa yang mengelola, melainkan pada kualitas produk yang dihasilkan.
“Media itu parameternya nanti produknya, bukan siapanya. Tantangan orkestrasi lembaga hari ini adalah bagaimana pondok-pondok bisa memobilisasi dan mengorganisir diri untuk membangun ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Akafarma Sunan Giri Ponorogo, Nasruhan Arifianto, menekankan bahwa media merupakan sarana untuk membangun citra dan menceritakan identitas pesantren kepada publik.
Menurutnya, santri dan warga Nahdliyin perlu mulai tampil aktif di ruang digital untuk mengimbangi dominasi kelompok lain dalam penguasaan media.
“Media adalah bagaimana kita mencitrakan dan menceritakan diri. Santri yang biasanya mengaji di pondok harus mulai tampil untuk mengimbangi pihak-pihak yang menguasai media. Kita bisa meng-counter berita negatif seperti kekerasan, pornografi, dan paham menyimpang dengan nilai-nilai ajaran pesantren,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen pesantren untuk bersama-sama menguasai media sebagai sarana menyebarluaskan syiar Islam.
Dukungan serupa juga disampaikan Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Ponorogo, Abdurrochman Syah. Ia menilai media dakwah pesantren harus berani masuk ke media sosial agar mampu menghadirkan narasi positif tentang dunia pesantren.
Menurutnya, selama ini banyak konten negatif yang diarahkan kepada pondok pesantren sehingga perlu diimbangi dengan produksi konten yang baik dan edukatif.
“Media dakwah kita harus berani masuk media sosial. Banyak konten yang tidak sesuai tertuju ke ponpes, sehingga itu harus segera dicounter dengan konten yang baik agar tidak menggiring opini buruk terhadap pesantren,” tegasnya.
Kegiatan ini turut mengundang sekitar 26 pondok pesantren di Ponorogo dengan estimasi sekitar 50 peserta yang hadir sebagai perwakilan media pondok. Beberapa di antaranya meliputi Pesantren Vokasi Merbabu, Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Pondok Pesantren Al Islam Joresan, Pondok Pesantren An Najiyah Lengkong, serta Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Jarakan.
Melalui kegiatan ini, Media Santri Ponorogo berharap dapat memperkuat jaringan media pesantren sekaligus memotivasi para santri untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam dakwah digital yang positif.





