DISRUPSI, RITUAL DAN TANTANGAN PUASA DI ERA DIGITAL

Oleh: Dr. Idam Mustofa, M.Pd., (Ketua PCNU Ponorogo dan dosen UNIDA Ponorogo)

*********

Ada pergeseran yang pelan tetapi pasti dalam lanskap keberagamaan kita. Banyak muslim hari ini tidak lagi menjadikan masjid, majelis taklim, pesantren, atau madrasah sebagai rujukan utama dalam belajar agama. Mereka tetap religius, tetap ingin dekat dengan ajaran Islam, tetapi cara belajarnya berubah. Ceramah diganti podcast, halaqah diganti webinar, kitab diganti thread, dan fatwa sering kali hadir dalam bentuk potongan video satu menit di beranda media sosial. Agama menjadi mudah diakses, cepat dikonsumsi, dan nyaris tanpa batas geografis.

Fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. desentralisasi otoritas epistemik dalam transmisi keilmuan Islam membuat siapa pun bisa belajar dari berbagai sumber. Akses terhadap tafsir, hadis, dan diskursus keislaman terbuka luas. Namun di sisi lain, kedalaman sering kali kalah oleh kecepatan. Otoritas kalah oleh algoritma. Yang populer tampak lebih benar daripada yang benar-benar otoritatif. Kita hidup dalam era di mana validitas sering kali diukur dari jumlah tayangan, bukan kekuatan argumentasi.

Dalam konteks inilah kegelisahan yang pernah dibaca oleh Kuntowijoyo dalam karya fenomenalnya “Muslim Tanpa Masjid” menjadi relevan kembali. Ia menangkap adanya pergeseran cara umat Islam memahami agama—tidak lagi sepenuhnya melalui institusi tradisional. Sementara itu, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengingatkan bahwa Islam memang tidak boleh dipersempit pada simbol dan bangunan fisik. Islam adalah nilai yang hidup dan dapat berdialog dengan budaya serta konteks zaman. Tetapi dialog dengan zaman bukan berarti kehilangan kedalaman tradisi.

Hari ini kita berada dalam dua arus besar yang tampak berlawanan selera: disrupsi dan ritual. Disrupsi menghadirkan percepatan, inovasi, dan kebebasan akses. Ritual menghadirkan keteraturan, disiplin, dan ketersambungan otoritas keilmuan. Disrupsi mendorong kita bergerak cepat, sementara ritual membimbing kita keluar dari arus percepatan, memberi ruang sunyi untuk refleksi dan pelurusan orientasi. Jika disrupsi adalah arus deras, maka ritual adalah jangkar yang menjaga arah.

Puasa menjadi titik temu penting dalam dialektika ini. Al-Qur’an menegaskan, “Kutiba ‘alaykum al-ṣiyām … la‘allakum tattaqūn” (QS. al-Baqarah: 183), bahwa tujuan puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar identitas, tetapi kesadaran batin yang terlatih. Nabi ﷺ pun mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Artinya, ritual tanpa makna adalah kekosongan. Namun dalam era digital, persoalannya bertambah: kita juga menghadapi makna yang instan tanpa disiplin ritual yang utuh.

Jika dahulu puasa dimaknai sebagai menahan diri dari makan dan minum, maka hari ini ia perlu diperluas sebagai latihan menahan distraksi. Kita hidup dalam dunia yang tidak pernah sunyi. Notifikasi terus berbunyi, opini berseliweran, perdebatan berlangsung tanpa jeda. Dalam kondisi seperti ini, puasa dapat dibaca sebagai latihan peradaban: menahan diri dari reaksi spontan, dari kemarahan digital, dari penyederhanaan ajaran agama yang kompleks menjadi slogan singkat.

Kontekstualisasi puasa dalam pandangan ini bukan mengubah hukumnya, melainkan memperluas kesadarannya. Puasa tetap memiliki rukun dan syarat yang jelas, tetap bagian dari disiplin syariat. Namun maknanya dapat menembus ruang digital yang kini menjadi habitat baru umat. Menahan diri dari ghibah di media sosial, dari penyebaran informasi yang belum diverifikasi, dari hasrat untuk selalu tampil dan berkomentar—semua itu adalah bentuk aktual dari ruh puasa di era disrupsi.

Pada akhirnya, tantangan kita bukan memilih antara disrupsi atau ritual, melainkan merajut keduanya dalam kerangka takwa. Disrupsi tanpa kedalaman akan melahirkan keberagamaan yang dangkal. Ritual tanpa refleksi akan melahirkan keberagamaan yang kaku. Puasa mengajarkan keseimbangan itu: ia adalah ritual yang paling sunyi, tetapi memiliki daya transformasi yang paling radikal. Di tengah dunia yang serba cepat, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi tanda kedewasaan spiritual dan intelektual. Dari situlah takwa tumbuh—bukan sekadar sebagai konsep teologis, tetapi sebagai fondasi etika dalam kehidupan digital dan sosial kita hari ini.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara

SITUS GACOR

slot88

rokokbet

situs gacor

slot88

rokokbet

SLOT88

slot gacor hari ini

Slot Gacor

LINK GACOR

Slot Resmi

SLOT88

SLOT88

SITUS GACOR

Slot Dana

https://bsj.uowasit.edu.iq/

Situs Toto

SITUS TOTO

Situs Toto

Situs Toto

TOTO 4D

TOTO 4D

Slot Dana

Slot Gacor

https://apcoreonlinejournal.org/

Slot Resmi

FOR4D