AswajaNews – Di tengah modernisasi yang melaju pesat, Kabupaten Banyuwangi kembali membuktikan diri sebagai “The Sunrise of Java” yang kaya akan akar budaya. Salah satu tradisi yang paling memacu adrenalin dan sarat makna spiritual adalah Ojung, ritual adu cambuk rotan yang menjadi warisan turun-temurun masyarakat di ujung timur Pulau Jawa.
Bukan sekadar pertunjukan ketangkasan fisik, Ojung adalah simbol permohonan doa, keberanian, dan sportivitas yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini.
Ojung adalah seni bela diri tradisional di mana dua pria saling berhadapan, bertelanjang dada, dan memegang sebatang rotan sebagai senjata. Aturannya sederhana namun menantang: setiap peserta bergiliran mencambuk punggung lawan.
Meskipun terlihat ekstrem, ritual ini memiliki aturan yang ketat. Area yang boleh dipukul hanya bagian punggung. Uniknya, setelah pertandingan berakhir, tidak ada rasa dendam di antara para pemain. Mereka justru berpelukan sebagai tanda persaudaraan.
Makna Spiritual: Ritual Pemanggil Hujan
Bagi masyarakat agraris di beberapa desa di Banyuwangi, seperti di Kecamatan Wongsorejo, Ojung memiliki dimensi spiritual yang dalam. Tradisi ini sering dilaksanakan sebagai:
- Ritual Minta Hujan: Dilakukan saat musim kemarau panjang melanda agar hasil tani tetap melimpah.
- Tolak Bala: Sebagai upaya memohon keselamatan desa dari marabahaya.
- Syukur Panen: Ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta atas kelimpahan sumber daya alam.
Keunikan Pertunjukan Ojung
Pertunjukan ini selalu berhasil menyedot perhatian wisatawan karena elemen-elemennya yang khas:
- Musik Pengiring: Tabuhan musik gamelan atau kendang kempul yang dinamis membakar semangat para pemain dan penonton.
- Kostum Tradisional: Pemain biasanya mengenakan sarung yang digulung (bebed) dan ikat kepala khas (udeng).
- Wasit (Pepenah): Seorang wasit berpengalaman yang memastikan pertandingan berjalan adil dan berhenti jika ada tanda-tanda cedera serius.
Ojung sebagai Magnet Pariwisata Banyuwangi
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong pelestarian Ojung dengan memasukkannya ke dalam agenda festival kebudayaan. Hal ini bertujuan agar generasi muda tetap bangga akan identitas budayanya sekaligus menarik minat wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman autentik.***





