Oleh: Dr. Agus Setyawan, S.Th.I., M.S.I. (Ketua PC ISNU Ponorogo dan Dosen Filsafat Islam UIN Ponorogo)
*********
1. Landasan Hadits: “Innamal A‘mālu bin Niyyāt”
Hadits tentang niat merupakan fondasi etik dan spiritual dalam Islam. Diriwayatkan oleh Umar bin Khattab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj)
Hadits ini oleh para ulama disebut sebagai salah satu hadits yang menjadi poros ajaran Islam. Bahkan Imam Syafi’i menyatakan bahwa hadits ini mencakup sepertiga ilmu agama, karena seluruh amal—baik ibadah mahdhah maupun muamalah—ditentukan oleh orientasi batinnya.
Implikasi teologisnya:
- Amal tanpa niat yang benar tidak bernilai ibadah.
- Niat membedakan antara adat (kebiasaan) dan ibadah.
- Kualitas amal lebih ditentukan oleh orientasi hati daripada kuantitas perbuatan.
2. Konsep Niat Menurut Imam Nawawi
Dalam Syarh Shahih Muslim dan Al-Arba‘in an-Nawawiyyah, Imam Nawawi menjelaskan bahwa:
- Niat adalah kehendak hati (qaṣd al-qalb) untuk melakukan sesuatu.
- Letaknya di dalam hati, bukan pada lafaz lisan.
- Ia berfungsi sebagai pembeda (tamyīz) antara:
- Ibadah dan non-ibadah
- Satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya (misalnya salat Zuhur dan salat Asar)
Menurut beliau, keikhlasan (ikhlāṣ) adalah inti niat. Amal yang sah secara fikih belum tentu diterima secara spiritual jika tidak disertai keikhlasan. Dengan demikian, niat memiliki dua dimensi:
- Dimensi hukum (fiqhiyyah) → menentukan sah atau tidaknya ibadah.
- Dimensi spiritual (tazkiyah) → menentukan diterima atau tidaknya ibadah di sisi Allah.
Di sinilah pentingnya muhasabah (evaluasi batin) sebelum dan sesudah beramal.
3. Keikhlasan sebagai Ruh Ibadah
Ikhlas berarti memurnikan tujuan hanya untuk Allah, tanpa motif tersembunyi seperti pujian, pengakuan, atau kepentingan duniawi.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Secara teologis, ikhlas adalah bentuk tauhid dalam orientasi amal. Tanpa ikhlas, ibadah menjadi kosong secara maknawi.
4. Bahaya Riya’ dan Ujuba. Riya’
Riya’ adalah melakukan amal agar dilihat atau dipuji manusia. Dalam perspektif akhlak tasawuf, riya’ termasuk syirik khafi (syirik tersembunyi).
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya’.
Dampak riya’:
- Menghapus pahala amal.
- Menjadikan amal sebagai transaksi sosial, bukan penghambaan.
- Merusak integritas spiritual pelaku ibadah.
b. Ujub
Ujub adalah merasa bangga dan takjub terhadap diri sendiri atas amal yang dilakukan. Jika riya’ berorientasi keluar (ingin dilihat orang), maka ujub berorientasi ke dalam (kagum pada diri sendiri).
Menurut para ulama tasawuf, ujub lebih halus dan lebih berbahaya karena:
- Sulit disadari.
- Menghancurkan rasa butuh kepada Allah.
- Menumbuhkan kesombongan spiritual.
Dalam literatur tazkiyah, penyakit ini sering dibahas oleh tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, yang menekankan bahwa amal harus selalu disertai rasa takut tidak diterima (khauf) dan harapan akan rahmat Allah (raja’).
5. Refleksi Praktis bagi Santri
- Luruskan niat sebelum memulai ibadah maupun aktivitas akademik.
- Jadikan belajar, mengajar, dan berkarya sebagai ibadah dengan orientasi pengabdian kepada Allah.
- Latih kepekaan batin: tanyakan pada diri, “Untuk siapa saya melakukan ini?”
- Biasakan doa agar diberi keikhlasan, karena ikhlas bukan sekadar keputusan rasional, tetapi anugerah ilahi.
Penutup
Niat adalah fondasi, keikhlasan adalah ruh, dan amal adalah manifestasi lahiriah. Tanpa niat yang benar, amal menjadi kosong; tanpa ikhlas, amal menjadi rapuh; dan dengan riya’ serta ujub, amal berpotensi gugur.
Maka, menjaga niat bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan proses spiritual yang berkelanjutan sepanjang hayat.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq





