AswajaNews – Di tengah gempuran modernisasi, denyut nadi tradisi di Malang Raya tetap berdetak kencang. Salah satu ikon yang terus memikat wisatawan dan peneliti budaya adalah Tari Topeng Malangan. Kesenian ini bukan sekadar gerak tari biasa, melainkan sebuah fragmen sejarah yang menceritakan kejayaan masa lalu melalui ukiran kayu yang artistik.
Tari Topeng Malangan memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman Kerajaan Kanjuruhan hingga Kerajaan Singhasari. Berbeda dengan topeng dari daerah lain, ciri khas utama Topeng Malangan terletak pada ragam karakternya yang sangat detail, mulai dari warna hingga bentuk mata dan hidung yang mewakili sifat manusia.
Cerita yang diangkat biasanya berfokus pada Wayang Gedog, yakni kisah kepahlawanan dan percintaan dari siklus Panji (Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji).
Karakteristik Unik yang Menjadi Daya Tarik
Para kolektor dan penikmat seni sering kali menyoroti beberapa aspek unik dari kesenian ini:
Warna Topeng: Hijau melambangkan kebijaksanaan, merah melambangkan keberanian atau angkara murka, dan putih melambangkan kesucian.
Gerakan Kaki: Cenderung lebih dinamis dan tegas dibandingkan tari tradisional Jawa Tengah, mencerminkan karakter masyarakat Malang yang lugas.
Pusat Pelestarian: Saat ini, Desa Wisata Jabung dan Padepokan Seni Asmoro Bangun di Kedungmonggo menjadi pusat edukasi utama bagi wisatawan yang ingin belajar memahat maupun menari.
Upaya Pelestarian di Era Digital
Pemerintah Kota dan Kabupaten Malang terus mendorong regenerasi penari muda. Festival tahunan dan pertunjukan rutin di berbagai hotel serta tempat wisata menjadi strategi utama agar Tari Topeng Malangan tetap relevan bagi generasi Z.
“Topeng Malangan bukan hanya pajangan dinding. Di balik setiap goresan pahatannya, ada nilai moral tentang perjuangan hidup yang harus kita sampaikan pada dunia,” ujar salah satu maestro pengrajin topeng lokal.
Bagi Anda yang berencana mengunjungi Malang, menyaksikan pertunjukan ini secara langsung adalah pengalaman yang wajib masuk dalam daftar perjalanan. Selain menikmati visualnya, Anda juga turut berkontribusi dalam menjaga api budaya Nusantara tetap menyala.***





