Oleh: Imroatul Minfaridah, M.S.I. (Dosen Ilmu Falak dan Kepala Watoe Dhakon Observatory UIN Ponorogo)
*********
Ramadhan selalu datang membawa suasana khidmat, harapan baru, dan semangat pembaruan diri. Namun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan 1447 H juga diiringi dengan dinamika penetapan awal bulan yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Perbedaan antara konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dan metode rukyat serta hisab yang digunakan oleh NU dan Pemerintah kembali menjadi topik hangat.
Di tengah perdebatan itu, ada satu pertanyaan penting: sudahkah kita benar-benar memahami makna puasa sebagai latihan pengendalian diri?
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Puasa dalam Islam bukan hanya menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego dan mengendalikan hawa nafsu.
Dalam tradisi tasawuf, konsep ini dikenal sebagai mujahadatun nafs—perjuangan sungguh-sungguh melawan dorongan ego dan kecenderungan negatif dalam diri. Nafsu tidak selalu berbentuk keinginan fisik. Ia juga hadir dalam bentuk:
• Keinginan untuk merasa paling benar
• Dorongan untuk memenangkan perdebatan
• Hasrat untuk merendahkan pandangan orang lain
Media sosial sering kali menjadi arena tempat ego menemukan panggungnya. Perbedaan awal Ramadhan pun kadang berubah dari diskusi ilmiah menjadi perdebatan emosional.
Padahal, Ramadhan hadir untuk melembutkan hati, bukan mempertajam perpecahan.
KHGT dan Rukyat: Perbedaan Metode, Bukan Perbedaan Iman
Konsep KHGT berupaya menghadirkan kesatuan kalender Hijriah secara global berbasis kriteria astronomi tertentu. Sementara itu, NU dan Pemerintah Indonesia tetap menggunakan metode rukyat dan hisab dengan mekanisme sidang isbat sebagai bentuk kehati-hatian dan kesesuaian dengan konteks nasional.
Perbedaan ini berada dalam ranah ijtihad—upaya intelektual dalam memahami teks dan realitas. Ia bukan persoalan akidah, melainkan metodologi.
Namun, sering kali yang menjadi masalah bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita menyikapinya. Apakah kita mampu menerima keberagaman pandangan dengan dewasa? Ataukah kita justru terpancing untuk membela pendapat dengan emosi? Di sinilah puasa menemukan relevansinya.
Mujahadatun Nafs di Era Digital
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga selama belasan jam, seharusnya kita juga mampu menahan jempol dari komentar yang menyakitkan.
Mujahadatun nafs di era digital berarti:
• Tidak mudah tersulut provokasi
• Tidak membagikan informasi tanpa klarifikasi
• Tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan
• Menjaga lisan dari celaan
• Mengontrol jempol dari komentar yang menyakiti
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Tujuan akhirnya adalah takwa, yaitu kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap sikap dan respons kita. Termasuk dalam merespons perbedaan pendapat. Karena musuh terbesar bukanlah kelompok yang berbeda pandangan, melainkan ego dalam diri kita sendiri.
Belajar dari Jalaluddin Rumi: Penyucian Jiwa di Atas Ego
Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar, mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejati adalah perjalanan membersihkan hati. Dalam banyak karyanya, Rumi menekankan pentingnya melepaskan keakuan.
Bagi Rumi, ketika seseorang masih terikat pada “aku paling benar”, ia belum sepenuhnya merdeka secara spiritual. Puasa adalah momentum untuk mengosongkan diri dari kesombongan agar hati dipenuhi cahaya Ilahi.
Rumi mengingatkan bahwa kebenaran tidak akan tumbuh di hati yang dipenuhi amarah. Cahaya tidak masuk ke dalam wadah yang penuh dengan ego.
Maka, dalam menyikapi perbedaan awal Ramadhan, mungkin yang perlu kita jaga bukan hanya argumentasi, tetapi kebeningan hati.
Ramadhan sebagai Momentum Kedewasaan
Perbedaan awal Ramadhan bukan hal baru dalam sejarah Islam. Sejak masa klasik, perbedaan metode dalam penentuan bulan sudah ada. Namun, para ulama tetap menjaga adab dan persaudaraan.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk:
• Menguatkan ukhuwah
• Menghormati perbedaan ijtihad
• Mengutamakan persatuan hati daripada keseragaman teknis
Karena pada akhirnya, kualitas puasa tidak diukur dari kapan kita memulainya semata, tetapi dari sejauh mana ia mengubah akhlak kita.
Penutup: Menang atas Diri Sendiri
Ramadhan 1447 H mengingatkan kita bahwa kemenangan terbesar bukanlah memenangkan perdebatan tentang kalender, melainkan memenangkan pertarungan melawan diri sendiri.
Jika puasa membuat kita lebih sabar, lebih santun, dan lebih lapang menerima perbedaan, maka kita telah memahami esensinya. Mari jadikan Ramadhan sebagai latihan mujahadatun nafs—menahan bukan hanya lapar, tetapi juga ego. Karena pada akhirnya, yang dinilai Allah bukan siapa yang paling keras berdebat, tetapi siapa yang paling bersih hatinya.
Wallohul munafik illa aqwamithoriq.


