AswajaNews – Bau tanah basah yang khas menyambut siapa saja yang melintas di deretan rumah kayu di salah satu sudut Kecamatan Pagerwojo. Di sebuah emperan rumah yang sederhana, seorang pria tua dengan jemari yang legam oleh lumpur tampak begitu khusyuk.
Kakinya lincah menendang perabot—alat putar kayu tradisional—sementara tangannya dengan lembut mengelus sebongkah tanah liat yang perlahan mulai membentuk lekukan anggun sebuah gentong.
Inilah wajah Pagerwojo, sebuah wilayah di lereng pegunungan Tulungagung yang hingga kini masih setia menjadi penjaga sisa-sisa peradaban kriya tertua manusia: Gerabah.
Kehangatan dari Tanah Leluhur
Bagi masyarakat Pagerwojo, gerabah bukan sekadar urusan dapur atau wadah air. Setiap kepingan tanah yang dibakar adalah napas kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Tanah liat di sini bukan tanah sembarangan; teksturnya yang padat dan warnanya yang kemerahan setelah dibakar memberikan kekuatan yang tak dimiliki oleh produk plastik massal dari pabrik.
Prosesnya pun jauh dari kata instan. Mulai dari memilih tanah, menjemurnya di bawah terik matahari Tulungagung, hingga ritual pembakaran menggunakan jerami dan kayu bakar yang memakan waktu belasan jam. Hasilnya adalah sebuah harmoni warna gradasi cokelat kehitaman yang estetik—sebuah karya seni yang lahir dari elemen dasar alam: tanah, air, udara, dan api.
Menari di Antara Tradisi dan Modernitas
Namun, zaman terus berputar lebih cepat dari alat putar gerabah mereka. Tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal teknis pembuatan, melainkan bagaimana produk tradisional ini bisa duduk sejajar di rak-rak kafe modern atau galeri seni di kota besar.
Kini, di sudut-sudut bengkel, mulai tampak perubahan. Selain memproduksi layah (cobek) atau pawon (tungku) pesanan pasar, para perajin muda mulai bereksperimen. Mereka menciptakan pot-pot minimalis dengan desain kontemporer hingga vas bunga artistik yang kini sedang naik daun sebagai dekorasi rumah bergaya industrial atau scandinavian.
Ini adalah cara mereka bertahan. Sebuah bentuk kompromi yang manis antara menjaga teknik kuno dengan selera masa kini.
Menjaga Bara Tetap Menyala
Pagerwojo tidak hanya menawarkan barang jadi. Bagi siapa saja yang singgah, ada pelajaran berharga tentang “melambat”. Di sini, pengunjung bisa duduk bersila, mencoba menempelkan tangan pada tanah liat yang dingin, dan merasakan sensasi menciptakan sesuatu dari nol dengan tangan sendiri.
Inilah potensi wisata edukasi yang perlahan mulai menggeliat. Pagerwojo ingin dunia tahu bahwa menjadi perajin gerabah bukanlah profesi masa lalu yang layak dilupakan, melainkan sebuah bentuk kemandirian ekonomi yang berbasis pada kekayaan bumi sendiri.***





