AswajaNews – Kesenian Wayang Topeng Malang merupakan salah satu warisan budaya khas Jawa Timur yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.
Seni pertunjukan ini memadukan tari, drama, musik gamelan, dan penggunaan topeng sebagai representasi karakter dalam cerita.
Wayang Topeng Malang, yang juga dikenal sebagai Topeng Malangan, berkembang di wilayah Malang dan sekitarnya.
Tradisi ini telah hidup sejak berabad-abad lalu dan kerap dipentaskan dalam berbagai hajatan masyarakat, mulai dari bersih desa, ruwatan, hingga peringatan hari besar.
Cerita yang dibawakan umumnya mengangkat kisah Panji, legenda klasik Jawa yang sarat nilai kepemimpinan, kesetiaan, dan kebijaksanaan.
Setiap karakter memiliki topeng dengan bentuk, warna, dan ekspresi berbeda yang mencerminkan sifat tokoh tersebut.
Tokoh Panji misalnya, digambarkan dengan wajah halus dan warna lembut, sementara karakter antagonis memiliki raut lebih tegas dan warna mencolok.
Pertunjukan biasanya diawali dengan tari pembuka, dilanjutkan adegan dramatik yang diiringi gamelan khas Malang. Dalang atau pengatur cerita berperan penting dalam menjaga alur pertunjukan agar tetap hidup dan komunikatif bagi penonton.
Di sejumlah desa seperti Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Wayang Topeng Malang masih dijaga secara turun-temurun oleh keluarga seniman.
Regenerasi dilakukan melalui sanggar-sanggar seni yang melatih anak-anak hingga remaja agar mengenal dan mencintai budaya daerahnya.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Minimnya minat generasi muda serta keterbatasan panggung pertunjukan menjadi pekerjaan rumah bagi para pelestari seni.
Untuk itu, berbagai komunitas dan pemerintah daerah mulai mendorong promosi melalui festival budaya, kolaborasi seni modern, hingga pemanfaatan media digital.
Pelaku seni berharap Wayang Topeng Malang tidak hanya dipandang sebagai tontonan tradisional, tetapi juga sebagai identitas budaya yang membentuk karakter masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman, kesenian ini membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup selama ada komitmen untuk merawat dan mewariskannya.***





