AswajaNews – Di belakang panggung, seorang pria paruh baya tengah merapikan mahkota tokoh raja yang akan ia perankan malam itu. Namanya Suyanto (52), sudah lebih dari tiga dekade ia menghidupi panggung Ketoprak Jawa Timuran.
“Kalau tidak ada yang neruske, iso ilang kabeh,” ujarnya pelan.
Ketoprak di Jawa Timur memang tak lagi seramai era 1980-an. Dulu, hampir setiap hajatan besar menghadirkan pentas semalam suntuk. Kini, jadwal tampil semakin jarang. Namun bagi para pelakunya, ketoprak bukan sekadar hiburan—melainkan panggilan jiwa.
Lakon Majapahit yang Tak Pernah Usang
Malam itu, lakon yang dibawakan adalah kisah kejayaan Majapahit. Dialog berbahasa Jawa mengalir tegas, khas logat Jawa Timuran yang lugas dan berenergi. Adegan perdebatan antar tokoh kerajaan disambut tepuk tangan penonton yang duduk lesehan.
Bagi masyarakat desa, pertunjukan ini bukan hanya tontonan. Anak-anak yang menyaksikan perlahan mengenal kembali sejarah daerahnya—tentang kepemimpinan, kesetiaan, dan keberanian.
“Lewat ketoprak, bocah-bocah ngerti sejarah ora mung saka buku,” kata seorang penonton.
Regenerasi yang Tidak Mudah
Salah satu tantangan terbesar adalah regenerasi. Tidak banyak anak muda yang tertarik belajar dialog panjang dengan bahasa Jawa krama atau memahami pakem cerita kerajaan.
Namun secercah harapan muncul. Beberapa sekolah di Blitar dan Madiun mulai memasukkan ketoprak dalam kegiatan seni budaya. Media sosial pun dimanfaatkan untuk menayangkan potongan adegan agar lebih mudah diakses generasi muda.
“Saiki kudu pinter nggunakke digital,” ujar salah satu pelatih ketoprak di Tulungagung.
Ketoprak Jawa Timuran dan Identitas Budaya Lokal
Sebagai bagian dari seni teater tradisional Jawa Timur, ketoprak memegang fungsi penting dalam menjaga identitas budaya Mataraman. Iringan gamelan yang rancak, dialog penuh wibawa, serta selipan humor lokal menjadi pembeda dari ketoprak gaya Yogyakarta atau Surakarta.
Ketoprak Jawa Timuran tidak sekadar mengulang cerita lama. Ia terus beradaptasi, menyesuaikan tema dengan isu kekinian tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Menjaga Panggung Tetap Menyala
Menjelang tengah malam, lakon mencapai klimaks. Raja berdiri tegap menyampaikan petuah tentang keadilan dan amanah. Sorot lampu sederhana menerangi wajah para pemain yang berkeringat namun tetap penuh semangat.
Di tengah arus hiburan modern, panggung ketoprak mungkin tampak sederhana. Namun di sanalah sejarah, nilai moral, dan identitas Jawa Timur terus dirawat.
Selama masih ada gamelan yang ditabuh dan dialog yang diucapkan dengan sepenuh hati, Ketoprak Jawa Timuran belum akan kehilangan panggungnya.***





