AswajaNews – Ludruk Surabaya adalah salah satu kesenian tradisional Jawa Timur yang lahir dari denyut kehidupan masyarakat kelas pekerja. Di tengah modernisasi dan gempuran hiburan digital, ludruk tetap bertahan sebagai teater rakyat khas Surabaya yang sarat kritik sosial, humor segar, dan pesan moral.
Bagi warga Kota Pahlawan, ludruk bukan sekadar tontonan panggung. Ia adalah suara rakyat—jujur, lugas, dan penuh guyonan khas arek Suroboyo.
Sejarah Ludruk Surabaya
Sejarah Ludruk Surabaya berakar pada awal abad ke-20. Kesenian ini berkembang pesat pada masa kolonial Belanda sebagai media hiburan sekaligus kritik sosial terhadap ketimpangan dan penjajahan.
Berbeda dengan ketoprak yang banyak mengangkat kisah kerajaan atau legenda, ludruk menampilkan cerita kehidupan sehari-hari rakyat kecil—buruh, pedagang pasar, tukang becak, hingga problem rumah tangga.
Pada era 1970–1980-an, ludruk mencapai masa kejayaan. Grup-grup besar seperti Ludruk Karya Budaya dan tokoh legendaris seperti Cak Durasim menjadi ikon perlawanan budaya melalui panggung.
Ludruk Surabaya sebagai Identitas Budaya Jawa Timur
Sebagai bagian dari warisan budaya Jawa Timur, Ludruk Surabaya memegang peran penting dalam menjaga identitas masyarakat arek. Nilai kebersamaan, keberanian berbicara, dan kritik sosial yang konstruktif menjadi ruh utama kesenian ini.
Ketika lampu panggung menyala dan Tari Remo menghentak membuka pertunjukan, penonton tidak hanya menyaksikan drama. Mereka sedang melihat cermin kehidupan—dibalut tawa, sindiran, dan harapan.***




